Hubbun Nabi SAW : Biografi
Headlines News :

NU

s

s

Kubah Masjid Rasulullah Muhammad SAW

Kubah Masjid Rasulullah Muhammad SAW

Shalawat Jalan Selamat

Shalawat Jalan Selamat

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Kitab Hilyatul Auliya'

Written By ahmadmaslakhudin.blogspot.com on Selasa, 28 April 2020 | 14:02






Begitu banyak buku-buku yang mengisahkan tentang perjalanan hidup, siroh, thabaqot, sejarah para Salaf, salah satu diantaranya kitab : Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Asyfiya ( Perhiasan para wali dan tingkatan orang-orang suci), sebuah kitab ensiklopedi Islam yang memaparkan sejarah dan biografi para ulama Salaf terdahulu secara detail. Dengan membawakan hadits dan atsar beserta sanad-nya.mencerikan sejarah hidup generasi islam mulai dari generasi Shahabat, Tabiin, tabiut tabiin dan seterus nay dari ulama-ulama Sunnah.

Sistematika penyajian buku ini terbilang klasik, karena semua kisah dan biografi ulama Salaf disini diceritakan menggunakan hadits dan atsar lengkap, sehingga valliditas dan keontetikan ceritanya pun bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyah lewat studi hadits dan atsar. Oleh karena itu buku ini menjadi referensi utama dalam disiplin ilmu Sejarah.
Kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Asyfiya, ini ditulis oleh Al Imam Abu Nuaim Al Ashfani -rahimahulloh-

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Abdullah bin rAhmad Al-Ashfahani. Beliau lahir pada tahun 336 H, dan waf at pada tahun 430 H.



Kitab Hilyatul Auliya' bisa di download di bawah ini


Juz 1
Juz 2
Juz 3
Juz 4
Juz 5
Juz 6
Juz 7
Juz 8
Juz 9
Juz 10
Juz 11
Juz 12
Juz 13
Juz 14
Juz 15
Juz 16
Juz 17
Juz 18
Juz 19
Juz 20
Juz 21
Juz 22
Juz 23
Juz 24
Juz 25
Juz 26
Juz
Juz
Juz
Juz
Juz
Juz
Juz


Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi Ad-Dimasyqi

Written By ahmadmaslakhudin.blogspot.com on Sabtu, 13 Juli 2013 | 13:39

Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi Ad-Dimasyqi dan Karya-karyanya : Ratusan Karya Terlahir dalam Keterbatasan Usianya
Wednesday, 19 June 2013 18:32
www.majalah-alkisah.comJamaluddin muda, yang kala itu berusia 14 tahun, sudah dilibatkan dalam aktivitas pengajaran ke berbagai pelosok daerah di Syam, seperti Wadi ‘Ajam, Qadha Nabk, dan Ba’albek.
Syaikh Abu Al-Farj Muhammad Jamaluddin bin Muhammad Sa’id bin Qasim bin Shalih bin Ismail bin Abubakar Al-Hallaq Al-Qasimi adalah salah satu ulama Sunni asal Suriah di abad ke-19 M yang terkemuka.
Ia lahir pada waktu dhuha, hari Senin, 8 Jumadal Ula 1283 H/1866 M, di Damaskus. Ia hidup pada paruh kedua abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M, yang digambarkan sebagai masa-masa yang berat dalam kehidupan era kemun­duran.
Putranya, Zhafir Al-Qasimi, menye­butkan, sang ayah hidup pada masa pe­nuh kezhaliman dan orang-orang zhalim masa pemerintahan Utsmani. Ketika itu kebebasan dikekang, pemikiran untuk bangkit dari penjajahan Barat sulit di­ekspresikan, undang-undang negara te­rikat kolonialisme dan mengikat rakyat.
Dalam hal pendidikan, berbagai lem­baga pendidikan Islam banyak yang di­tutup dan hilang digerus zaman, sehing­ga tampak kebodohan dan buta huruf me­landa kaum muslimin. Bahkan, ham­pir saja orang yang mau belajar mem­baca jumlahnya tak lebih dari hitungan jari.
Begitulah kondisi masyarakat ketika Syaikh Jamaluddin hidup. Namun ia tetap bersungguh-sungguh dengan cita-citanya yang setinggi langit untuk me­lakukan perubahan diri dan masyarakat.
Ia tumbuh dalam keluarga yang mengutamakan ilmu dan kemuliaan ilmu. Mulanya ia belajar mengaji kepada ayahnya, Syaikh Muhammad Sa’id, ulama yang dikenal sebagai ahli fiqih dan sastra. Kepada ayahnya, Jamaluddin muda memperoleh ilmu yang banyak. Ke­mudian ia menimba ilmu kepada se­kian guru. Ia belajar Al-Qur’an kepada Syaikh Abdurrahman Al-Mishri, serta menulis dan menekuni kaligrafi kepada Syaikh Mahmud Al-Qushi. Selanjutnya ia mendalami ilmu tauhid dan ilmu ba­hasa kepada Syaikh Rasyid Quzaiha, yang termasyhur dengan panggilan “Syaikh Ibnu Sinan”. Untuk memper­ba­gus bacaan Al-Qur’an-nya, ia belajar ke­pada guru besar qurra` (para qari, pe­lantun bacaan Al-Qur’an) negeri Syam, Syaikh Ahmad Al-Halwani. Kepada Syaikh Salim Al-‘Aththar, ia mengkaji ber­bagai kitab besar, seperti Syarh Syudzur adz-Dzahab, Syarh Ibn Aqil, Jam’u al-Jawami’, Tafsir Al-Baidhawi, Shahih Al-Bukhari, Al-Muwaththa`, Ma­shabih as-Sunnah, hingga memperoleh semua ijazah ilmu dan kitab atas garis sanad gurunya pada tahun 1301 H/1884 M, tatkala usianya menginjak 18 tahun.
Sederet nama sang guru, seperti Syaikh Muhammad Al-Khan, Syaikh Bakri Al-‘Aththar, Syaikh Muhammad An-Naqsyabandi, dan Syaikh Hasan Ju­bainah Ad-Dasuqi, adalah nama-nama besar pujangga ilmu Islam yang menak­jubkan, yang dikenal kapasitas keilmu­annya, yang turut menghantarkannya ke­pada masa depan Jamaluddin muda yang bersinar terang.
Ia melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Azh-Zhahiriyah di pusat kota Da­maskus. Pada masa itu, pemerintah biasanya memilih pemuda-pemuda ter­pelajar untuk menjadi guru pelajaran umum pada bulan Ramadhan. Jamalud­din muda, yang kala itu berusia 14 tahun, sudah dilibatkan dalam aktivitas pendi­dikan dan pengajaran ini, dengan dikirim ke berbagai pelosok daerah, seperti Wadi ‘Ajam, Qadha Nabk, dan Ba’albek.
Madzhab Jamali
Ketika ayahnya wafat pada tahun 1898 M, saat ia berusia 32 tahun dan mengajar di Universitas Sinan, pihak rek­torat memintanya untuk menggantikan kedudukan ayahnya di universitas terse­but. Ia pun menerimanya. Universitas ini pun menjadi tempatnya menunjukkan kapasitas dan kualitas keulamaannya di kemudian hari. Satu di antaranya adalah aktivitas menulis, yang ditempuhnya selama 12 tahun. Maka terlahirlah karya-karya besar, di antaranya kitab tafsir Mahasin at-Ta‘wil, sebanyak 12 jilid tebal. Kitab tafsir ini merupakan karya terbesar yang dilahirkannya dan mem­beri manfaat luas bagi para penuntut ilmu di era modern.
Syaikh Jamaluddin adalah imam dan pendakwah bagi penduduk Syam. Seba­gaimana telah disebutkan, sedari belia ia mengajar di berbagai pelosok negeri Syam atas izin pemerintah, sebelum akhir­nya memilih melakukan rihlah ilmi­ah ke Mesir, Palestina, Makkah, dan Madinah.
Syaikh Jamaluddin adalah seorang yang senang berziarah dan melakukan rihlah ilmiah. Ia berkunjung ke Mesir, ber­ziarah ke berbagai situs peninggalan masa Islam, memberikan kuliah umum di Al-Azhar Asy-Syarif, dan melakukan diskusi dengan para ulama reformis Mesir, seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Begitu pula ia melakukan muhibah ilmiah ke Baitul Maqdis, Makkah, dan Madinah.
Sebab berhentinya mengajar konon lan­taran tuduhan yang ditimpakan ke­padanya, yakni ingin mendirikan madz­hab baru dalam agama yang dinisbah­kan kepada namanya, Madzhab Jamali. Pemerintah Syam melakukan interogasi atasnya dan menutup majelis pengaji­annya, namun nyatanya tuduhan itu tak terbukti sama sekali.
Selama masa penyegelan aktivitas mengajar itu, Syaikh Jamaluddin tidak patah arang. Ia menyibukkan dirinya dalam menulis. Ia tetap mengajar bagi murid-murid dan masyarakat umum. Ke­kangan dakwah dan ta’lim yang diha­dapinya itu justru membuatnya semakin kreatif dan produktif menulis. Tak kurang dari 73 penulisan buah buku diselesai­kannya dalam tempo singkat. Bahkan ada yang melansir bahwa karyanya mencapai ratusan buku. Belum lagi pro­fesinya sebagai kolumnis keagamaan di berbagai majalah dan harian, yang banyak mengungkap buah pikirannya. Sehingga seorang intelektual Lebanon bernama George Affandi Haddad me­mu­ji­nya dengan sebuah syair duka cita saat Syaikh Jamaluddin wafat:

Tidurlah dengan nyenyak
wahai Jamaluddin
Sesungguhnya zaman
menanggung apa yang menimpamu
Kelak pastilah
para generasi penerus akan tahu
bagaimana keutamaanmu
Jika generasi yang kini
tidak tahu kapasitasmu

Terlahir dari sebuah Kegundahan
Putranya, Syaikh Zhafir Al-Qasimi, melansir, jumlah karya ayahnya men­dekati 100 buah. Bahkan menurut se­orang peneliti, Dr. Nizar Abazhah, jumlahnya mencapai 113 buah, ber­bentuk manuskrip maupun tercetak, tebal maupun tipis.
Karya terawal ditulisnya pada tahun 1299 H/1882 M, pada saat usianya baru 16 tahun, berjudul As-Safinah. Karya ini memuat pandangan orisinalnya dari hasil menelaah tema-tema adab, akhlaq, sejarah, syair, dan sebagainya.
Intelektualitas Syaikh Jamaluddin yang begitu cemerlang tampak pada sejumlah karyanya. Ia menulis berbagai permasalahan agama, itu menandakan keluasannya dalam ilmu pengetahuan. Di antara karya-karyanya ialah Al-Ajwibah al-Ghaliyah fil Mustadillin bi Tsubut Sunnah al-Maghrib al-Qabliy­yah, Irsyad al-Khalq, Al-Isra‘ wa al-Mi’raj, Awamir Muhimmah fi Ishlah al-Qadha asy-Syar’iyy, Ishlah al-Masajid, Al-Awrad al-Ma’tsurah, Tarikh al-Jahmiyyah wa al-Mu’tazilah, Ta’thir al-Masyam fi Ma‘atsir Dimasyq wa asy-Syam, Tanbih ath-Thalib ila Ma’rifah al-Fardh wa al-Wajib, Jawami’ al-Adab fi Akhlaq wa al-Injab, Majmu’ah Khutab, Hayah al-Bukhari, Dala‘il at-Tawhid, Asy-Syay wa al-Qahwah wa ad-Du­khan, Syadzarah as-Sirah al-Muham­madiyyah, Syaraf al-Asbath, Syams al-Jamal ‘Ala Muntakhab Kanz al-‘Ummal, Mizan al-Jarh wa at-Ta’dil, Ath-Tha‘ir al-Maymun fi Halli Lughz al-Kanz al-Madfun, Fatawa Muhimmah fi asy-Syari’ah al-Islamiyyah, Mizan al-Jarh wa at-Ta’dil, Jawami’ al-Adab, Madza­hib al-I’rab wa Falasifah al-Islam fi al-Jinn, Al-Mashu ‘ala al-Jawrabayn, Al-Isti‘nas li Tashhih ankihah an-Nas, An-Nafhah ar-Rahmaniyyah Syarh Matn al-Maydaniyyah fi at-Tajwid, Naqd an-Nasha‘ih al-Kafiyah ‘ala Ta’dil Mu’awi­yah, dan Maw’izhah al-Mu’minin min Ihya ‘Ulum ad-Din.
Kitab yang disebut terakhir ini me­rupakan salah satu karya agungnya bersama tafsir Mahasin at-Ta’wil.
Mau’izhatul Mu’minin adalah kitab yang mengupas sebahagian tema yang termuat dalam kitab Ihya Ulumiddin, karya Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali. Sebagaimana dikatakan Syaikh Jamaluddin dalam muqaddimahnya, karya ini terlahir dari sebuah kegundahan rekan sesama ulama terkemuka di Damaskus, di dalam memberi pemahaman pengkajian kitab Ihya bagi kalangan awam, yang me­mang menyukai tema-tema agama yang sederhana namun sulit mengerti. Al-Ihyaseakan hanya dapat memberikan man­faat bagi segelintir orang yang sudah mapan pengetahuan agamanya.
Walhasil, berangkat dari tujuan mulia ini, yakni membumikan kitab Ihya bagi masyarakat, Syaikh Jamaluddin mulai meringkasnya pada tahun 1323 H/1905 M. Ia memilih tema-tema yang seder­hana, dengan mengikuti tertib pasalnya seba­gaimana kitab aslinya, hingga tersusun menjadi dua juz (jilid).
Nyatanya, kitab ini tidak saja bertuju­an untuk kemudahan tersebut, bahkan juga menjadi bahan acuan materi para dai, di dalam memberikan penerangan keislaman bagi masyarakat, hingga kini. Inilah salah satu sumbangsih terbesar yang terasa hingga kini dari pengabdian keilmuan Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi.
Syaikh Jamaluddin wafat pada sore hari Sabtu 23 Jumadal Ula 1332 H/18 April 1914 M dalam usia 48 tahun. Singkatnya batas usia kehidupan Syaikh Jamaluddin bertolak belakang dengan pencapaian keilmuannya. Karyanya jauh melampaui usia. Umur boleh pendek, tapi karya dan aktivitasnya berjejer panjang.
Ulama yang memiliki tujuh orang putra dan putri dari seorang istri ini telah meninggalkan warisan khazanah yang berharga bagi kelanjutan tradisi penulis­an ilmu-ilmu keislaman, persis seperti ujar­annya yang mendalam, “Sesung­guhnya (meninggalkan) sebuah kitab yang tercetak itu lebih baik daripada se­ribu dai dan penceramah. Karena se­buah kitab dapat dibaca oleh orang yang menyepakati dan yang menyelisihinya.”
AB

Habib Fikri bin Abdullah Bafaraj

Written By ahmadmaslakhudin.blogspot.com on Kamis, 11 Juli 2013 | 22:01

Habib Fikri bin Abdullah Bafaraj: Perjuangan Berlandaskan Keilmuan
www.majalah-alkisah.com“Ada sebuah hadits, yang intinya menyatakan, seseorang yang jauh dari ilmu atau ulama akan dijauhkan dari keberkahan pada mata pencaharian mereka. Pada hadits lainnya, mereka akan dikuasakan pada seorang penguasa yang zhalim. Dan ada hadits lainnya lagi, disebutkan, mereka akan keluar dari dunia tanpa iman.”

Seorang kiai memeluknya hangat, tangannya mencengkeram tubuh dai berjubah dan bersorban putih ini pe­nuh erat, sejurus kemudian ia berkata dengan semangat, “Ahlan wa sahlan, ya Habib Rizieq. Kami sangat senang de­ngan kedatangan antum.”
Yang dipeluk membalas hangat pe­luk sang kiai, seraya berbisik ringan, ”Maaf, Kiai, Habib Rizieq kirim salam, be­liau ber­ha­langan datang karena kondisi kesehat­annya yang sedang tak me­mungkinkan.”
Mata sang Kiai terbelalak, dengan sedikit mendorong tubuh yang sedang dipeluknya itu ia perhatikan baik-baik orang yang ada di depannya.
Belum hilang rasa bingung sang Kiai, orang yang tadi dipeluknya segera ber­kata lagi, ”Iya, Kiai, saya wakil yang be­liau utus untuk menggantikan undangan dakwah beliau.”
Kejadian di atas adalah kisah nyata yang terjadi di sebuah desa di wilayah barat Pulau Jawa. Orang memang ba­nyak yang terkecoh dengan style dan wajah serta tubuh dai muda ini, yang sekilas memang mirip Habib Rizieq Syihab. Di beberapa tempat, kejadian seperti ini sempat pula berulang. Garis wajahnya, gerak-gerik tubuhnya, hingga cara bicaranya sewaktu berdakwah, kata banyak orang, mirip Habib Rizieq.
Habib Fikri bin Abdullah Bafaraj, demikian nama dai muda ini, yang tak lain adalah salah seorang murid Habib Rizieq. Kedekatannya dengan panglima FPI ini sudah cukup lama. Dari mulai kedekatan hubungan murid dan guru, kini ia pun semakin dekat, sebab kini ia menjadi menantu sang guru. Seta­hun yang lalu, ia resmi menyunting putri sulung Habib Rizieq Syihab.

Khawatir Pergaulan Remaja
Saat tokoh muda ini mulai muncul ke permukaan panggung dakwah di bebe­rapa tempat, bukan hanya kemiripan dirinya dan Habib Rizieq yang menjadi buah bibir. Tak sedikit yang bertanya-tanya tentang kata “Bafaraj” di belakang nama Habib Fikri.
Keluarga Bafaraj mungkin belum terlalu familiar di telinga para muhibbin di Nusantara. Bahkan, pada sementara kalangan Alawiyyin pun tak sedikit yang be­lum mengetahui keberadaan satu mar­ga keluarga Alawiyyin yang bernama Bafaraj. Wajar saja, di sini, populasi keluarga Bafaraj pun sedikit sekali.
Bafaraj adalah nama salah satu ke­luarga Alawiyyin anak ke­turunan Habib Faraj (wafat di kota Tarim tahun 876 H/1471 M) bin Ahmad Al-Masrafah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi Ammu Al-Faqih. Jadi, kalau biasanya ke­luarga Alawiyyin Hadhramaut digolong­kan pada dua kelompok besar, yaitu ke­luarga Al-Faqih dan keluarga Ammul Fa­qih, keluarga Bafaraj ini termasuk dalam kelompok yang kedua, yaitu keluarga Ammul Faqih.
Sebagian keluarga Alawiyyin meng­gunakan gabungan kata Ba dan nama seseorang, yang bermakna putra atau anak-cucu, seperti Baagil dan Bahsin (dari kata Ba Husain). Kata “Ba” dalam lahjah (dialek bahasa) orang Hadhra­maut semakna dengan “Bin”. Jadi, Bafaraj di sini bermak­na anak keturunan Habib Faraj.
Sebagian keluarga Bafaraj lainnya juga berdomisili di Singapura. Dari ne­geri itu pula ayah dari kakek Habib Fikri, yaitu Habib Umar bin Ali Bafaraj, hijrah dan kemudian menetap di Jakarta. Dan di kota metropolitan ini juga Habib Fikri dilahirkan, tepatnya pada 19 Juni 1985.
”Sebenarnya, ane ini awal mulanya berangkat dari pendidikan umum. Na­mun ane beruntung punya abah yang men­didik agar ane nggak cuman belajar di sekolah, tapi harus juga belajar aga­ma. Jadi, sekalipun abah ane bukan ula­ma, sudah menjadi prinsip baginya bah­wa agama harus menjadi prioritas dalam kehidupan keluarganya. Sehingga, anak-anaknya kalau pagi sekolah di sekolah umum dan kalau siang atau sorenya masuk madrasah. Gak cuman belajar di madrasah, habis maghrib kita juga harus mengaji Al-Qur’an,” ujar Ha­bib Fikri dengan logat kental Betawinya mengenang masa-masa kecil ber­sama sang ayah.
Selepas bangku SLTP, tahun 2000, sang ayah melihat pergaulan remaja yang semakin mengkhawatirkan. Ka­rena­nya, ayahnya pun memesantren­kan­nya. Saat itu, Darut Tauhid, Malang, menjadi pilihan ayahnya.

Orientasi Mulai Bergeser
Di pondok pesantren yang diasuh (alm.) Ustadz Abdullah Abdun itu, sang pengasuh sangat memperhatikan para santrinya. Kalau berpapasan, ia terbiasa menegur terlebih dulu santrinya. Dengan bahasa Arab tentunya, agar para santri terbiasa bicara dengan bahasa Arab. Kalau si santri tidak tahu artinya, Ustadz Abdullah kemudian mengartikan. ”Itu cara tarbiyah yang diterapkan Ustadz Abdullah. Beliau sangat menggalakkan pelajaran bahasa Arab bagi para santri­nya,” ujar Habib Fikri.
Tahun 2002, Ustadz Abdullah me­ning­gal. Posisi Ustadz Abdullah, sebagai pengasuh ma’had, kemu­dian digantikan oleh salah putranya, yaitu Ustadz Thaha Abdun.
Habib Fikri kemudian bercerita ketika ia mulai semakin dekat dan cinta pada ilmu agama. ”Kita mengaji agama, tetapi entah mengapa kebanyakan kita tidak menjadikan ulama sebagai figur utama kita. Sisi-sisi kehidupan kita lainnya masih amat mewarnai pola pikir kita se­hingga kita lebih menempatkan, misal­nya, artis, penyanyi, atau pemain sepak­bola, sebagai figur dalam kehidupan kita. Cara pandang semacam ini bahkan juga banyak menjangkiti para santri pondok pesantren, termasuk saya pada waktu itu.
Sampai pada satu ketika, di saat-saat saya sedang liburan pesantren dan pulang ke rumah orangtua, saya hadir di majelis Maulid yang saat itu meng­ha­dirkan Habib  Rizieq sebagai pembicara­nya. Kebetulan sekali, saat itu Habib Rizieq membahas perihal urgensi ta’lim, menuntut ilmu, bagi umat Islam.
Saya lihat, ini ustadz kayaknya lain sendiri, wawasannya luas banget. Bukan hanya dalam bidang ilmu agama, hampir setiap aspek lain di luar agama yang ia katakan, rasanya seperti ia kuasai se­cara mendalam.
Saat melihat sosok ini, pandangan saya terhadap agama juga menjadi se­makin luas. Saya tambah paham bahwa Islam bukan hanya bicara fiqih atau akh­laq, tapi juga mencakup banyak aspek lain dalam kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun bermasyarakat. Begitu yang saya dapatkan dari majelis Habib Rizieq saat itu. Dari sini saya mulai meng­idolakan ulama. Saya pun jadi tambah semangat belajar.
Seperti kebanyakan santri yang ka­lau liburan pulang ke rumah, tapi kalau mau balik lagi ke pesantren perasaan berat sekali, setelah saya hadir di majelis itu, alhamdulillah seketika semangat bel­ajar saya terasa menggelora di dada. Rasa­nya, saat itu saya pun pulang kembali ke pesantren dengan se­mangat baru yang menyala-nyala.
Namun begitulah, kebanyakan anak pondok, semangat itu ada naik-turunnya. Yang jelas, setelah kehadiran saya di majelis itu, yang tadinya gila bola dan sebagainya, terasa sekali orientasi saya mulai bergeser. Saya mulai mengidola­kan ulama dan semakin cinta pada ilmu agama.”

Minta Tasbih, Dapat Kopiah
Setelah Habib Fikri merampungkan pendidikannya di Darut Tauhid pada tahun 2004, pada tahun itu juga ia pun melanjutkan pendidikannya ke Rubath Al-Jufri di Madinah, asuhan Habib Zain Bin Sumaith.
Pendidikan di rubath yang diasuh Habib Zain ini sangat memaksimalkan pemanfaatan waktu sehari-hari. Dari pagi sampai malam, santri berkutat dengan halaqah-halaqah ilmu yang digelar. Tak lupa, malam hari setiap santri wajib shalat Tahajjud, dan pagi harinya, setelah sha­lat Subuh, kembali melanjutkan aktivitas keilmuannya. Begitu seterusnya hari demi hari dijalani Habib Fikri.
Di rubath Habib Zain ini pula setiap santri diharuskan menghafal mutun, be­berapa kitab matan. “Hampir pada setiap bidang ilmu agama, kita wajib menghafal salah satu kitab matan pada bidang ilmu agama tersebut, seperti kalau dalam ilmu fiqih, kita wajib hafal kitab Safinah dan Zubad, dalam ilmu tauhid, kita wajib hafal Jauharah at-Tauhid, dalam ilmu nahwu kita wajib hafal Jurumiyah, sam­pai ada juga di antara santri yang dalam ilmu hadits disuruh menghafal Al-Muwaththa’,” kisah Habib Fikri.
”Sewaktu ane mau pulang ke kam­pung halaman, setelah sekitar empat tahun di sana, ane kan harus pamitan sama Habib Zain. Pada waktu itu Habib Zain lagi ada di Jeddah. Maka ane pun menyempatkan diri ke Jeddah untuk menemui beliau. Ane pamit pada beliau dan meminta doa beliau. Alhamdulillah biasanya banyak orang yang minta doa, tapi ketika itu cuma ane sendiri.”
Saat itu, Habib Zain mendoakannya lama sekali.
Setelah selesai didoakan, sebagai murid yang telah bertahun-tahun tinggal bersama di pesantren asuhan Habib Zain di Madinah, ia ingin ada kenang-ke­nangan tersendiri, yang dengannya ingat­annya dapat mudah terbawa untuk mengingat sang guru. Habib Fikri pun meminta kenang-kenangan dari Habib Zain berupa tasbih. ”Supaya ane juga lebih rajin berdzikir, ane minta kenang-kenangan tasbih dari Habib Zen.”
“Alham­dulillah, ternyata yang beliau berikan adalah kopiah,” imbuhnya lagi.
Apa makna di balik ini? Wallahu a’lam. Yang jelas, ada seseorang yang saat itu mengatakan kepadanya, “Ya Fikri, ente beruntung banget, tiga hari yang lalu ada kiai minta kopiah Habib Zen, tapi gak dikasih.”

Berjuang lewat Dakwah
Selain mendoakan Habib Fikri, saat itu Habib Zain juga berpesan kepadanya agar nantinya, setelah pulang ke Indone­sia, ia tidak bekerja, tapi langsung meng­ajar.
Menuruti apa yang dipesankan sang guru, Habib Fikri pun langsung aktif ber­dakwah. Saat itu, yaitu pada tahun 2008, ia mulai merintis jalan dakwahnya de­ngan berkolaborasi bersama sejumlah alumnus Darul Musthafa Hadhramaut. Habib Nabil Al-Gadri salah satunya.
Namun, “Sambil mulai dakwah di Ja­karta, ane kemudian tetap terus mengaji, yaitu pada majelis ta’lim Habib Rizieq. Di majelis Habib Rizieq, beliau banyak mem­buka kitab-kitab Sayyid Muham­mad bin Alwi Al-Maliki. Dari beliau, ane banyak ber-istifadah (mengambil fai­dah), terutama dalam mempelajari ilmu faraidh (ilmu waris), ilmu falak, dan ilmu hadits.”
Kedekatan hubungan antara dirinya dan Habib Rizieq terus berlangsung, sam­pai akhirnya ia pun menyunting putri sulung Habib Rizieq.
Selain berdakwah di tengah masya­rakat, ia pun kini bergabung dalam per­juangan dakwah di barisan FPI. Di FPI sekarang ia duduk sebagai ketua LDF (Lembaga Dakwah Front), yang merupa­kan sayap organisasi FPI dalam bidang dakwah. Sebelumnya, yaitu saat per­tama ia aktif di FPI, ia duduk di ketua Bidang Syari’at Dewan Syura FPI DPW Jakarta.
Beberapa waktu kemudian ada rek­rutmen kepengurusan baru di jajaran DPP. Habib Fikri pun ditarik ke DPP dan ditempatkan sebagai ketua LDF. LDF ini terdiri dari para dai, yang banyak ber­gerak di dunia dakwah. Misinya, tentu saja bergerak di bidang dakwah, di an­taranya dengan menambah wawasan ke­agamaan para anggota laskar FPI, termasuk juga menggelar majelis-ma­jelis dakwah keliling di tengah masya­rakat di berbagai tempat. “Misalnya di Jakarta ini, kita menggelarnya di lima wilayah kota Jakarta. Kita keluar masuk kampung,” ujar Habib Fikri, menje­laskan kiprahnya di LDF.

Tetap Semangat Belajar
Saat ditanya ihwal problematik ma­syarakat kita saat ini, menurutnya, ke­banyakan orang awam di sekitar kita sekarang ini sebaiknya terus diarahkan agar lebih memperhatikan bekal ilmu dalam diri mereka.
”Ada hadits Nabi, yang intinya me­nyatakan, seseorang yang jauh dari ilmu atau ulama akan dijauhkan dari keber­kahan pada mata pencaharian mereka. Pada hadits lainnya, mereka akan di­kuasakan pada seorang penguasa yang zhalim. Dan ada hadits lainnya lagi, di­sebutkan, mereka akan keluar dari dunia tanpa iman.
Itulah madharat karena kita jauh dari ilmu dan ulama, na’udzu billah min dzalik...,” katanya.
Terkait dengan hal itu, lalu bagaima­na gerak dan langkah nyata dakwah LDF di lapangan, “Kita beru­paya, misalnya, dengan mengumpulkan para dai dan asatidz, terutama tentunya kita mengum­pulkan para anggota dan simpatisan FPI, kemudian mengundang umat Islam secara terbuka. Di sana, kita buka kitab. Kita kaji ilmu-ilmu agama di sana.
Banyak masalah yang dihadapi ma­syarakat kita saat ini. Jalan keluar yang terbaik, ya kita harus sama-sama men­dekat pada bahtera ilmu. Sebab ilmu itu pelita, penerang menuju jalan yang be­nar, agar kita tidak salah jalan, hingga se­­makin jauh dari kebenaran dan keba­ha­giaan hidup. Bukankah setiap kita me­mang wajib menuntut ilmu?”
Selain sebagai aktivis organisasi, sebagai pribadi ia juga memang telah aktif mengajar di beberapa tempat, se­bagaimana yang dipesankan Habib Zain sewaktu ia pamitan pulang dari Madinah beberapa tahun yang lalu. Di majelisnya, di antaranya, ia membuka kitab Bidayah al-Hidayah, Safinah an-Najah, dan be­berapa kitab lainnya.
Semangat belajar Habib Fikri patut diacungi jempol. Tahun lalu, jebolan pe­santren Madinah ini melanjutkan pendi­dikannya kembali ke Negeri Piramid, Mesir. Saat ini, ia pun tercatat sebagai sa­lah seorang mahasiswa Al-Azhar. Di Al-Azhar, ia mengambil Fakultas Sya­ri’ah Islamiyyah, bersama lebih dari 20 ribu ma­hasiswa lainnya, dalam satu angkatan.
Karena aktivitas barunya di Al-Azhar, Mesir, setahun terakhir ini ia jadi sering bolak-balik Indonesia-Mesir. Namun de­mikian, majelis yang telah ia bina bukan berarti harus ia tutup. Sementara ini majelisnya dilanjutkan oleh sejumlah sahabatnya, alumni Rubath Tarim dan Darul Musthafa, yaitu Habib Muhammad bin Salim Al-Attas dan Habib Abdul Qadir bin Ali Bin Sahil.
Menilik perjalanan hidup dai muda kita ini, meski dirinya disebut-sebut ba­nyak memiliki kemiripan dengan mertua­nya, partisipasi aktifnya di FPI maupun peran aktifnya di medan dakwah saat ini jelas tidak bersandar pada bayang-bayang nama besar sang mertua. Semangat belajarnya yang tetap terpeli­hara baik, meski ia jebolan pesantren ternama di Madinah dan bahkan setelah ia kini su­dah menikah, cukup menjadi alasan atas hal itu.

Habib Jakfar Shodiq bin Alwi Almunawar

Habib Jakfar Shodiq bin Alwi Almunawar, Semarang: Memasuki segala Pintu Dakwah
www.majalah-alkisah.comHabib Jakfar Shodiq bin Alwi Almunawar Semarang berdakwah di berbagai kalangan masyarakat, dari pelajar sampai mahasiswa, dari masyarakat awam sampai kalangan ustadz dan habaib.


Habib Jakfar Shodiq bin Alwi bin Ali Almunawar berprinsip bahwa setiap pintu dakwah harus dima­suki, tidak perlu dibatasi, untuk tingkatan apa pun. Karena itu, habib muda alumnus Darul Musthafa Tarim Hadhramaut ini berdakwah dari kalangan pelajar hingga mahasiswa, dari kalangan awam hingga para ustadz dan habaib.
“Sampaikanlah walaupun satu ayat,” demikian bunyi perintah Rasulullah SAW kepada umatnya, dan hal itu dipegang betul oleh Habib Jakfar Shodiq dalam ke­hidupannya.
Sejak kecil, habib yang lahir di Palem­bang 5 Juni 1972 ini diasuh oleh ibu dan ayahnya dengan bacaan Al-Qur’an dan hadits. Tidak hanya itu, hampir setiap hari juga didengarnya sang ayah melan­tunkan qashidah-qashidah yang berasal dari gubahan para ulama besar di Hadh­ramaut. Sebab ayahnya, Habib Alwi bin Ali Almunawar, adalah pembaca qashi­dah dan shalawat yang sering tampil di majelis ilmu dan dzikir maupun haul di ber­bagai kota di Sumatera dan Jawa.
Dari pernikahannya dengan istri per­tama, Habib Alwi bin Ali Almunawar di­karuniai tujuh anak.
Setelah istri pertama meninggal, ia me­nikah lagi dengan Syarifah Maryam binti Abdullah Al-Hamid. Suami-istri ini di­nikahkan oleh Habib Saleh Tanggul. Pa­sangan ini memiliki tiga anak, dan Habib Jakfar Shodiq adalah anak nomor dua. Mereka akhirnya tinggal di Bondo­woso.
Setelah mengenyam pendidikan di rumah, Jakfar Shodiq muda memasuki masa belajar di lembaga pendidikan umum, oleh ayahnya dimasukkan ke Madrasah Al-Khairiyah Bondowoso. Di se­kolah itu ia menempuh pendidikan dari TK hingga Tsanawiyah, kemudian Aliyah.
Setelah lulus Aliyah, ia bertemu Habib Musthafa Assegaf di Situbondo, pendidik tulen yang sering memberangkatkan sis­wa-siswa yang berbakat untuk menerus­kan pelajaran ke Hadhramaut. Habib Jak­far Shodiq termasuk anak yang cerdas dan bisa berbahasa Arab, hasil didikan di madrasah maupun di rumahnya. Maka, pada tahun 1998, ia berangkat ke Hadh­ramaut bersama beberapa rombongan untuk belajar di Darul Musthafa, asuhan Habib Umar Bin Hafidz.
“Saya mungkin termasuk angkatan keempat, sebab di atas saya adalah kelas Habib Jamal Ba’agil Malang, yaitu angkat­an ketiga di Darul Musthafa,” tuturnya.
Masa belajar di Darul Musthafa ditem­puhnya dalam waktu empat tahun. Ka­rena itu, pada tahun 2002 Habib Jakfar Shodiq sudah dapat pulang ke Indonesia.
Masa belajarnya termasuk cepat. Pelajaran di Darul Musthafa, alhamdulil­lah, dapat diselesaikannya dengan lan­car, sehingga ia dapat memenuhi target yang telah ditentukan Habib Umar Bin Hafidz.
Habib Jakfar Shodiq tidak langsung pulang ke rumah, tetapi berkhidmat dulu di Pesantren Raudhatul Musthafa di Situbondo beberapa tahun. Pesantren ini didirikan oleh Habib Musthafa Assegaf, yang memberangkatkannya ke Darul Musthafa.
Pesantren Raudhatul Musthafa men­da­patkan namanya dari Habib Umar Bin Hafidz, ketika ia pergi ke Situbondo dan ber­tepatan dengan berdirinya pesantren itu. Pesantren itu juga banyak mendapat arahan dari Habib Umar Bin Hafidz dan se­karang berkembang pesat dengan ra­tusan santrinya.
Habib Jakfar Shodiq menjadi ustadz muda di pesantren ini selama tiga tahun, yaitu 2002 hingga 2005. “Pada tahun 2005 saya menikah dengan Syarifah Amirah binti Segaf bin Syech Almunawar asal Semarang, dan tinggal di Semarang hingga sekarang,” ujarnya.
Istrinya ini masih kerabat dengan keluarga Toha Putra, yaitu satu kakek, Syech Almunawar. Sebab yang menjadi perantara perjodohannya adalah Habib Hasan bin Toha bin Syech Almunawar, putra kedua Habib Toha Almunawar, pen­diri PT Karya Toha Putra. Karena itulah, di Semarang, Habib Ja’far Shodiq banyak terlibat dalam majelis ta’lim maupun pesantren yang didirikan oleh keluarga Toha Putra.
Dari pernikahan dengan Syarifah Amirah, Habib Ja’far Shodiq dikarunia dua anak: Fathi­mah Syaharbanu dan Ali Uraidhi. “Nama untuk yang ter­akhir ini pemberian Habib Umar Bin Hafidz, guru saya, ketika beliau datang ke Solo tahun 2012 untuk menghadiri per­nikahan anak Habib Soleh Al-Jufri. Aneh­nya, waktu itu anak saya belum lahir, tetapi Habib Umar sudah memberikan nama lelaki, dan alhamdulillah memang yang lahir laki-laki, jadi sesuai dengan pemberian namanya. Subhanallah.”
Kembali kepada kisah Habib Jakfar ketika awal tinggal di Semarang, ia dise­rahi tugas untuk mengasuh santri maha­siswa di Pondok Pesantren Al-Madinah Al-Munawarah, yang didirikan oleh ke­luarga Toha Putra di Jalan Durian, Sron­dol Wetan, Semarang. Di pesantren ini, ia ikut membantu Ustadz Yahya Muta­makin, ustadz berpengalaman murid Ha­bib Zein bin Sumaith, ia ditunjuk oleh keluar­ga Toha Putra untuk menjadi mudhir di sini.
Kegiatan belajar-mengajar di Pesan­tren Al-Madinah lebih banyak pada malam hari, sebab kalau siang hari para santri-mahasiswa itu kuliah. Di pesantren ini, Habib Jakfar Shodiq mengajar kitab Nailul Raja, kemudian Mukhtarul Ahadits, dan Nurul Iman.
Sedang kalau pagi, kegiatan Habib Jakfar Shodiq mengajar sekaligus men­jadi penasihat di Pesantren Raudhatus Saidiyah Sampangan Semarang.
Pesantren yang diasuh oleh Kiai Mu­hammad Said Al-Masyhad ini juga di­lengkapi madrasah serta SMP dan SMK Terpadu. Jadi kalau siang para siswa bel­ajar ilmu umum, sedang kalau malam me­reka menjadi santri, belajar ilmu agama. Khusus pada hari Jum’at pagi, para siswa serta guru dan karyawan membaca Maulid. Bacaannya berganti-ganti: Maulid Diba’i, Maulid Barzanji, Maulid Simthud Durar, dan yang lainnya.
Kegiatan lainnya pengajian kitab Risa­lah Mu’awanah dan Nashaihul Ibad di Majelis Taklim Habib Toha Almu­nawar di Kauman Krendo, Semarang, setiap hari Selasa ba’da Ashar. Dan pada hari Jum’at ba’da pengajian kitab Bidaya­tul Hidayah di Masjid Agung Kauman, Semarang.
Kegiatan dakwah lainnya adalah peng­ajian selapan, serta menjadi khatib Jum’at di berbagai masjid di Semarang. Contohnya pengajian Ahad Legi di PP Raudhatus Saidiyah jam 09.00. Kemudi­an Pengajian Manakiban setiap Sabtu Kliwon untuk para kiai, yang tempatnya berpindah-pindah.
Habib Jakfar Shodiq tinggal di Jalan Kalingga 8 No. 9 Banyumanik Semarang. Ini adalah rumah baru, setelah rumah lama di Kauman tahun lalu dibeli Yayasan Masjid Agung Kauman untuk perluasan masjid. Di rumah ini juga diselenggarakan Maulid Burdah setiap Ahad Wage.
Sedang untuk membentengi jiwa dan keselamatan, Habib Jakfar Shodiq me­nyarankan memperbanyak membaca sha­lawat, istighfar, dan shadaqah. “Insya Allah hidup kita akan selamat dan pan­jang umur,” katanya.

Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus

Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus: Sosok Bersahaja yang Penuh Karya
www.majalah-alkisah.comWaktunya dihabiskan untuk mengajar dan terus berkarya, menulis kitab-kitab yang memiliki kontribusi besar bagi umat, khususnya bagi para penuntut ilmu.
Bila membaca setiap kitab dari kitab-kitab berikut ini di samping jadwal mengajar yang sangat padat dengan berbagai kitab-kitab umdah (pegangan) yang dibacanya, siapa pun tidak akan meragu­kan kedalaman ilmu sosok yang menjadi figur kita kali ini, Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus.
Dalam kajian hadits, ia telah menga­rang kitab Laftul Intibahat fiima Hadzara al-‘Ulama min at-Ta’lifat, Tuhfat al-Akhyar fi takhrij ma fi an-Nashaih min al-Akhbar, Faidh al-‘Alam fi Syarh Arba’in Haditsan fi as-Salam, Syarh at-Targhib wa at-Tarhib (dua juz).
Dalam kajian fiqih, ia telah mengarang Asy-Syafiyah fi Isthilahat al-Fuqaha asy-Syafi’iyyah (dua juz), Is’af al-Muhtaj fi Syarh al-Qilat al-Murajjahah fi al-Minhaj, Irsyad al-Hair ila Ad‘iyah wa Adab al-Hajj wa al-Musafir wa az-Zair.
Dalam tasawuf, karyanya antara lain al-Mawahib al-Jaliyyah fi Mukatabat Ahl Maqamat al-‘Aliyyah, an-Nashr al-Faih fi Tartib al-Fawatih.
Dalam tsaqafah Islamiyyah (kebuda­ya­an Islam), karyanya antara lain al-Faidh al-‘Ilmiyyah wa al-Fukahat al-Adabiyyah, I’lam al-Bararah bi Mabadi’ al-‘Asyarah, Fakk al-Mughlaqat fi Bayan al-Muradat min Alqab wa Asma’ al-Kutub al-Muthlaqat.
Dalam tarikh dan sirah, karyanya antara lain Minhat al-Ilah al-Ghani fi Ba’dh Manaqib al-Imam ‘Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, Lawami’ an-Nur as-Sani fi Tarjamah Syaikhina Al-Imam Muham­mad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Ghayat al-Amani fi Ba’dh Manaqib Al-Habib Al-Imam As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani.
Untuk sastra, di antara karyanya ada­­lah al-Lughat al-Arabiyyah Lughat Al-Qur’an, al-Injaz fi Amtsalat Ahl Hijaz, Nail al-’Arab bi Muqaddimat Khuhthab.

Kitab Asy-Syafiyah
Mari kita ambil satu dari sekian kitab karyanya untuk sedikit melihat bagai­mana kejelian dan ketelitian pengarang­nya dalam menyusun karya-karyanya.
Di antara kitab karyanya yang ter­masyhur dan sudah tercetak serta ter­sebar luas di kalangan ahli ilmu adalah kitab Asy-Syafiyah fi Isthilahat al-Fuqaha asy-Syafi’iyyah.
Dalam pengantar kitab ini, penulis menjelaskan, penulisan kitab ini berawal dari isyarat yang diberikan oleh salah satu guru besarnya, yakni Al-Allamah Abuya Muhammad bin Alawi Al-Maliki, agar ia mengumpulkan sebagian istilah yang termasyhur di kalangan fuqaha Syafi‘iyyah dalam ibarat-ibarat mereka yang ternukilkan di berbagai kitab.
Kitab ini dibagi menjadi lima belas bab. Bab kelima belas menjelaskan kai­dah pemberian gelar yang berlaku di ka­langan ulama: Jamaluddin adalah ge­lar untuk setiap yang bernama Muham­mad, Syihabuddin adalah gelar untuk se­tiap yang bernama Ahmad, Fakhruddin ada­lah gelar untuk setiap yang bernama Abu Bakar, Syuja‘uddin adalah gelar un­tuk setiap yang bernama Umar, Nurud­din adalah gelar untuk setiap yang ber­nama Ali, Wajihuddin adalah gelar untuk se­tiap yang bernama Abdurrahman, Muh­yiddin adalah gelar untuk setiap yang bernama Abdul Qadir, Afifuddin adalah gelar untuk setiap yang bernama Abdullah.
Dalam memberikan penjelasan ten­tang tingkatan ulama dan hukum taklid kita kepada mereka, sebagaimana di­jelaskan pada bab keempat belas dalam kitab Asy-Syafiyah itu, penulis membagi­nya menjadi enam tingkatan.
Pertama, tingkatan mujtahid mustaqil atau mujtahid muthlaq (mujtahid mutlak). Ini merupakan tingkatan tertinggi ulama mujtahid.
Kedua, tingkatan mujtahid muthlaq mun­tasib (mujtahid mutlak yang bernis­bah kepada seorang mujtahid mutlak ter­tentu) atau mujtahid madzhab.
Ketiga, tingkatan ash-hab al-wujuh (para ulama mujtahid yang menguraikan pendapat-pendapat dari mujtahid mutlak dalam satu madzhab).
Keempat, tingkatan mujtahid fatwa (ulama mujtahid yang memilih dan me­milah di antara pendapat-pendapat madz­hab yang kuat dari yang lemah dalam madzhab).
Kelima, tingkatan nuzhzhar fi tarjih makhtalaf fih syaikhani (para ulama yang memberikan komentar dan penilaian da­lam memberikan tarjih terhadap penda­pat-pendapat yang bertentangan pada­nya dua syaikh, yakni Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf Asy-Syairazi dan Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Mura Al-Hazami Al-Hawrani An-Nawawi).
Keenam, tingkatan para hamalah fiqh (para ulama fiqih di luar kelima ting­katan di atas).
Dalam hal taqlid, untuk tingkatan pertama sampai ke­pada tingkatan yang keempat, penulis menjelaskan bolehnya bertaqlid kepada mereka. Sedang untuk dua tingkatan ter­akhir, penulis mem­berikan penjelasan adanya ijma‘ fi‘li (ijma‘ dalam perbuatan) di kalangan ulama dari zaman mereka hingga saat ini untuk mengambil penda­pat dan tarjih dari mereka dari apa yang me­reka nukilkan dan termasyhur dalam ki­tab-kitab mereka.
Kuat Hafalannya dalam Hadits
Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Alaydrus lahir di kota Malang, 18 Juni 1957. Sejak kecil ia sudah berada di te­ngah lingkungan yang taat beragama. Pendidikan Habib Sholeh terasah sejak ia masuk Madrasah Ibtidaiyah At-Taroq­qie, Malang, yang pada saat itu diasuh dan dikelola oleh pamandanya sendiri, Habib Alwi bin Salim Alaydrus (lihat Manaqib).
Ayahandanya, Habib Ahmad Al­aydrus, adalah salah seorang ulama ter­kemuka di kota Malang yang betul-betul mencintai pendidikan. Lebih dari 30 ta­hun hidupnya disumbangkan untuk Madrasah At-Taroqqie. Selain cinta pen­didikan, Habib Ahmad juga dalam ke­hidupan sehari-hari sangat sederhana dan tawadhu‘. Ia adalah orang yang sangat wara’ dan hanya mau makan dari hasil jerih payahnya sendiri.
Selain itu, pamandanya, Habib Alwi bin Salim Alaydrus, yang akrab dipanggil “Ustadz Alwi” di kalangan masyarakat kota Malang, juga adalah sosok ulama besar kebanggaan Kota Apel tersebut.
Semasa hidup keduanya, bagi ma­sya­­rakat kota dan Kabupaten Malang dan sekitarnya, sosok ayahanda dan pa­man­da Habib Sholeh sangat berpenga­ruh. Karena kealimannya, kedua tokoh ulama kharismatis ini pun amat disegani. Tidak hanya oleh kalangan habaib, kiai, ustadz, dan tokoh masyarakat, tapi juga oleh para pejabat. Karenanya, keduanya pun di­jadikan panutan dalam menen­tukan sua­tu hukum Islam yang berkem­bang saat itu.
Selepas lulus dari madrasah, Habib Sholeh melanjutkan ke jenjang pendi­dikan Tsanawiyah di PP Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang. Selama di Darul Hadits, ia sangat bersungguh-sungguh mempelajari dasar-dasar ilmu hadits secara langsung kepada Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih.
Habib Sholeh sangat mengagumi dan mengidolakan sang guru, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih, yang di kemudian hari menjadi mertuanya. Di antara keistimewaan Habib Abdullah Bilfaqih dalam keilmuan yang melekat kuat dalam benak Habib Sholeh adalah sangat kuatnya hafalannya dalam ha­dits. “Habib Abdullah hafal ribuan hadits serta sanad-sanadnya dan juga nama-nama kitab, sekaligus halamannya,” kata Habib Sholeh menuturkan.
Isyarah Habib Sholeh Tanggul
Selepas dari Darul Hadits, sekitar ta­hun 1977, Habib Sholeh mendapat ta­war­an beasiswa dari Yordania dan Libya. Namun ia tidak menerima tawaran bea­siswa itu. Ia justru memutuskan ber­angkat ke Makkah Al-Mukarramah untuk berguru dan belajar kepada Abuya Say­yid Muham­mad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani.
Ihwal dipilihnya Makkah tidak terle­pas dari isyarah dari Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid Tanggul. Suatu ketika Habib Sholeh Tanggul berkata kepada­nya, “Tuntutlah ilmu ke habibmu di Madi­nah Al-Munawarrah.” Yang dimaksud Ha­bib di sini adalah enjid akbarnya, Ra­sulullah SAW.
Sehari setelah mendapat isyarah dari Habib Sholeh Tanggul itu, paman Habib Sholeh, Habib Alwi, mengabarkan bah­wa dirinya sudah ditunggu oleh Abuya Al-Maliki di Makkah. Maka akhirnya berang­katlah Habib Sholeh meninggalkan Indo­nesia untuk berguru kepada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
Begitu sampai di Makkah, Habib Sho­leh sangat senang, karena bisa ber­temu Abuya Al-Maliki, salah seorang ula­ma besar terkemuka Ahlussunnah yang sangat dihormati.
Saat bertemu gurunya itu, Abuya Al-Maliki berkata kepada Habib Sholeh, “Aku melihat pada dirimu ada pancaran cahaya ilmu.”
Selama mengaji di Ribath Abuya Al-Maliki, Habib Sholeh sangat menyenangi pelajaran hadits. Terutama kitab Shahih Al-Bukhari. Di dalam tradisi Ribath Maliki, kitab Bukhari dan Muslim, bila diajarkan, selalu diulang, dan pengulangannya seca­ra mendetail. Selain kedua kitab hadits uta­ma itu, ia juga mempelajari kitab ummaha­tus sitt (induk kitab hadits yang enam), yakni Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi.
Belajar di Ribath Al-Maliki sering di­lakukan di Masjidil Haram. Semua murid Abuya duduk di Masjidil Haram selama dua sampai tiga jam. Kala itu ada bebe­rapa santri yang mengeluh beser, hingga akhirnya beberapa santri memberanikan diri bertanya kepada Abuya. “Abuya, ba­gaimana kami yang beser ini?”
Mendengar pertanyaan santri-santri­nya, Abuya berkata, “Wahai anak-anak­ku, air Zamzam itu diperuntukkan bagi apa saja. Sekarang minumlah air Zam­zam sambil berdoa agar tidak beser selama di Masjidil Haram.”
Benarlah apa yang diucapkan oleh Abuya. Tidak ada lagi santri yang beser selama di Masjidil Haram padahal tiap 15 menit mereka minum air Zamzam itu.
Sepuluh Tahun di Ribath Abuya Al-Maliki
Selama di Makkah, Habib Sholeh me­nuntut ilmu bersama santri-santri lain dari Indonesia dan negara lainnya. Di an­tara santri yang berasal dari Indonesia saat itu adalah Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al-Haddad (Al-Hawi Jakarta), Habib Ahmad bin Husein Assegaf (Bangil), Habib Muhammad bin Idrus Al-Hadad dan Habib Muhammad bin Hu­sein Alatas (cucu Ha­bib Ali bin Husein Bu­ngur), Habib Muham­mad bin Ali Al-Habsyi (Probolinggo), K.H. Thoefur Ara­fat (Purworejo), K.H. Jauhari (Mage­lang), K.H. Ali Karar (Madura), K.H. Ab­dul Muiz (Bondowoso).
Karena tinggal di kediaman Abuya Al-Maliki cukup lama, Habib Sholeh pa­ham betul kepribadian agung Abuya Al-Maliki. Bagi Habib Sholeh, Abuya Al-Maliki adalah guru yang sangat arif. Mes­kipun Abuya Al-Maliki sendiri bermadz­hab Maliki, di ribathnya juga diajarkan fiqih Syafi‘i melalui guru-guru besar yang di­tunjuk oleh Abuya sendiri dan Abuya pun sangat memahami Madzhab Syafi’i. Abuya sangat toleran dengan perbedaan.
Selain itu, bila ada murid yang baru da­tang ke Makkah, Abuya Al-Maliki pasti mengajaknya ke makam Rasulullah SAW di Masjid An-Nabawi. Mereka juga diajak ke Uhud, sekaligus ditunjukkan tempat-tempat Nabi SAW duduk dan berdiri. De­ngan metode tersebut, murid-murid, selain diajari ilmu, kepada mereka juga ditanam­kan mahabbah kepada beliau SAW.
Selama lima tahun dalam gembleng­an Abuya Al-Maliki, Habib Sholeh sudah mengkhatamkan kurang lebih 100 kitab.
Rupanya lima tahun belajar kepada Abuya Al-Maliki masih dianggap kurang. Akhirnya Habib Sholeh menambah lagi masa belajarnya meski beberapa saha­batnya ada yang sudah kembali ke tanah air untuk berdakwah.
Setelah menempuh pendidikan di Ri­bath Abuya Al-Maliki selama sepuluh ta­hun, barulah Habib Sholeh pulang ke Indonesia. Tepatnya tahun 1988. Kemu­dian ia menikah dengan putri Habib Ab­dullah bin Abdul Qadir Bilfagih dan Habib Sholeh pun lalu mengabdikan dirinya un­tuk mengajar di PP Darul Hadits Al-Faqi­hiyyah, almamaternya dan juga keluar­ganya saat ini.
Kepada murid-muridnya, Abuya ber­pesan, “Kuunuu waratsatan nabi shal­lahhu ‘alaihi wasallam (Jadilah kalian para pewaris Nabi SAW).” Pesan inilah yang senantiasa dipegang oleh Habib Sholeh dalam menjalankan aktivitas dakwahnya.
Saat ini, selain menjadi pengajar di Pondok Pesantren Darul Hadits Malang, ia juga membuka majelis ta’lim di rumah­nya, Jln. Bareng Kartini Gg. 1 No. 2, Ma­lang. Majelis itu diberi nama “Majelis Ta`lim wad Dakwah lil Ustadz Al-Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus”.
Sejak menginjakkan kembali kakinya di tanah air dan hingga saat ini, seluruh aktivitas Habib Sholeh sepenuhnya di­curahkan untuk umat. Waktunya dihabis­kan untuk mengajar dan terus berkarya menulis kitab-kitab yang memiliki kontri­busi besar bagi umat, khususnya bagi para penuntut ilmu. Dan pada bulan-bu­lan tertentu, ia juga menyempatkan diri un­tuk berdakwah di berbagai daerah, baik di Nusantara maupun di luar negeri, se­perti Malaysia, Singapura, Brunai Darus­salam.

Habib Muhammad Al-Bagir bin Alwi Bin Yahya

Habib Muhammad Al-Bagir bin Alwi Bin Yahya : Totalitas Dakwah dengan Akhlaq Karimah
www.majalah-alkisah.comPada dirinya bermuara banyak keberkahan. Dari berkah Habib Utsman Bin Yahya, Habib Alwi Al-Haddad Keramat Empang, Habib Umar Bin Hud Cipayung, hingga Habib Umar Bin Hafidz dan Habib Rizieq Syihab.
Bila malam Sabtu rutin melewati arah Petamburan, Jakarta Pusat, atau Gilisampeng Kebon Jeruk, Jakarta Barat, jangan kaget bila Anda sering mendapati umbul-umbul putih bertuliskan Majelis Warotsatul Musthofa dengan warna hijau cukup besar.
Majelis yang belum lama berdiri ini tampaknya sudah mendapat hati dari kaum muslimin. Ya, mereka ingin me­nge­nal lebih banyak perihal majelis ini dengan menghadirinya dan mengenal siapakah sosok ulama dakwah yang menjadi sosok sentral di dalamnya.
Melalui penelusuran yang cukup lama, alKisah berkesempatan mewa­wan­carai tokoh itu, di sela-sela padatnya aktivitas dakwahnya. Ternyata, ia se­orang anak muda yang tampak kealiman dan akhlaqnya yang mulia pada dirinya. Benarlah kata Al-Imam Asy-Syafi’i dalam Diwan-nya, “Al-‘Alimu kabirun wa in kana shaghiran wal jahilu shaghirun wa in kana syaikhan.” Yang artinya, seorang alim itu terlihat besar kewibawaannya mes­kipun muda belia usianya, sebalik­nya orang bodoh itu terlihat kerdil sekali­pun tua usianya.
Subhanallah, alKisah, yang selama ini sedikit banyak menyelami kitab-kitab Habib Utsman dan dulu sering mula­zamah ke kediaman keluarganya, jadi “nyambung” saat bermuwajahah dengan tokoh muda ini.
Muara Keberkahan
Dai muda kelahiran Bogor, 19 Agus­tus 1988, ini adalah Habib Muhammad Al-Bagir bin Alwi Bin Yahya. Mengawali pembicaraan, ia menuturkan asal-usul­nya:
“Abah ana adalah Habib Alwi bin Husein bin Muhammad bin Alwi bin Utsman bin Abdullah bin Agil bin Umar Bin Yahya asal Petamburan. Ana ke­turunan kelima dari Habib Utsman Bin Yahya Mufti Betawi. Sedangkan ibu ana Syarifah Rahmah, putri Al-Habib Ahmad bin Muhammad Alaydrus, yang dijuluki ‘Habib Ahmad Fakhr’ (fakhr berarti “kebanggaan” – Red.) asal Bogor.
Alhamdulillah, ana banyak mendapat keberkahan dan keberuntungan dari kedua kakek ana, yakni Habib Utsman dan Habib Ahmad Fakhr. Pertama, mendapat keberuntungan lahir di tempat tidur Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad Keramat Empang. Kamar khusus ini memang disediakan jid (kakek) ana untuk Habib Alwi Al-Haddad, yang memang selalu ditempati beliau saat berkunjung ke rumah kakek ana, Habib Ahmad Fakhr. Jadi ada atsarnya di situ.
Satu keberuntungan lagi yang ana peroleh adalah ketika Ummi tengah mengandung ana. Beliau pergi ke ke­diaman Habib Umar Bin Hud Alatas, bertabarruk atas kehamilannya kepada Habib Umar.  Makanya, ummi ana men­dapati ana punya wajah agak berbeda dari yang lain, lebih mancung, seperti hidung Habib Umar Bin Hud Alatas. Yang kedua, dari Habib Utsman.
Alhamdulillah segala sesuatunya menjadi amanah yang mulia yang patut ana emban sampai kapan pun.”
Ke Darul Mushthafa
Akhir 1999, saat usia 11 tahun, Habib Muhammad Al-Bagir, atau biasa disapa “Habib Bagir”, selulus dari SD, berangkat mondok ke Darun Nasyiin, Lawang, Jawa Timur, yang saat itu diasuh Habib Ali bin Muhammad Ba’bud.
Tak lama ia mondok, abahnya sakit. Dan, atas permintaan abahnya, akhirnya Habib Bagir kecil menyudahi nyantrinya di Lawang. Abahnya memintanya untuk sekolah di tempat yang terjangkau jarak­nya oleh keluarga. “Ana ikuti keinginan orangtua, tapi ana hanya mau di pesan­tren, bukan sekolah umum,” katanya.
Habib Bagir pun melanjutkan belajar­nya ke Ma’had Darus Sa’adah Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hud Alatas, Cipayung, Bogor. Di antara guru-guru­nya pada saat itu adalah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, Habib Quraisy Baharun, Habib Hamid Barakwan, Habib Muhammad Al-Baiti, yang kesemuanya adalah murid-murid senior Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz.
Selepas menempuh pendidikan se­lama dua tahun, pada tahun 2002, Habib Bagir berangkat ke Hadhramaut, untuk meneruskan pendidikan ke Darul Mush­thafa. Alhamdulillah, semua berjalan dengan mudah atas izin Allah. Niat untuk belajar yang kuat menjadikan semuanya itu dimudahkan oleh Allah Ta’ala.
Tahun 2007, setelah bermukim se­lama lima tahun, Habib Bagir kembali ke tanah air. Sebetulnya ia masih berke­inginan belajar di sana, namun orangtua me­mintanya membantu aktivitas dak­wah di Jakarta.
Kenangan saat di Darul Mushthafa begitu indah. Khidmah selama di sana terbukti keberkahannya. Benarlah kata sebuah syair:

Man khadama
qadama
Siapa yang mengabdi
akan maju
“Pada bulan Ramadhan, saya hanya membantu mencuci karpet, menyapu lan­tai dan halaman, membantu di dapur untuk menyediakan ta’jil, dan semua pe­kerjaan rumah tangga yang terkadang terlihat sepele. Namun, subhanallah, apa yang saya lakukan itu menurunkan keberkahan buat saya. Di Darul Mush­thafa itu semuanya ilmu dan mengan­dung berkah yang besar. Guru Mulia sering mengunjungi dapur saat kami bekerja, dan beliau menebarkan senyum kepada kami. Sungguh, beliau seperti orangtua kepada anaknya, penuh kasih dan mengemong kami dengan ilmu dan akhlaq beliau,” kenangnya.
Kenangan lainnya yakni pergaulan dengan orang-orang Tarim. Sebelum masuk ke Darul Mushthafa, biasanya santri pemula mondok di Rubath Syihr, cabang Darul Mushthafa dan awal mula tempat berdirinya Darul Mushthafa sepulangnya Habib Umar belajar dari Baydha‘. “Nah, orang-orang Arab di Syihr ini yang mengajari kami belajar bahasa Arab yang murni dan fasih, juga bahasa Arab yang lazim dipakai di Tarim dan Yaman secara keseluruhan. Bahkan kami juga berkesempatan belajar baha­sa Inggris dan Afrika, dari para kawan kami, murid-murid pemula Tuan Guru, yang berasal dari Amerika, Inggris, Australia, dan Afrika. Jadi menambah wawasan pergaulan kami.”
Alhamdulilah, di tanah air, ia masih di­beri kesempatan untuk belajar lagi ke­pada beberapa ulama habaib, di an­tara­nya Habib Umar bin Abdullah Alatas Ber­dikari Rawabelong dan Habib Mu­ham­mad Rizieq bin Husein Syihab Pe­tam­buran. Di samping itu ia juga ikut serta ak­tif di majelis mudzakarah ber­sama Ha­bib Jindan, Habib Ahmad, dan sejumlah ustadz lainnya, alumni Darul Mushthafa.

Warotsatul Musthofa
Sepulang dari Tarim, Habib Muham­mad Al-Bagir punya tekad untuk memak­murkan kembali Masjid Jami’ Al-Islam Petamburan, Jakarta Pusat, sebuah masjid peninggalan Habib Utsman Bin Yahya, buyutnya. Di masjid itulah untuk pertama kalinya ia menyampaikan khuthbah Jum’at dan mengajar ta’lim se­tiap Ahad malam.
Tiga tahun kemudian, berkah dari ilmu yang diperoleh, Habib Bagir meng­ajar di beberapa majelis, masjid, dan mushalla di beberapa wilayah, bahkan sampai ke Bogor.
Setelah berjalan sekian tahun, timbul keinginan dari dirinya untuk membangun sebuah majelis yang terorganisir yang menaungi sekian majelis yang diasuh­nya. Tujuannya, agar bermanfaat lebih banyak bagi umat lewat satu payung majelis sehingga timbul kebersamaan.
Alhamdulillah, kemudian berdirilah majelis yang dinamakan “Warotsatul Musthofa”.
Kegiatan Warotsatul Musthofa berja­lan dari majelis ke majelis, rumah ke ru­mah. Perlahan namun pasti, semuanya berkembang pada satu tujuan untuk mengajak jama’ah mempelajari Islam lebih baik lagi, mengenal dan mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Betapa indahnya kalau melihat negeri ini makmur oleh majelis, diwarnai oleh mus­limin dan muslimah yang hidup harmo­nis, yang mencintai Rasulullah SAW, menjalani syari’at beliau dalam segala bentuk aktivitas mereka.
Alhamdulillah, murid dan jama’ah an­tusias mengikutinya. Mereka berbon­dong-bondong berperan serta. Ada yang membawa sound system,  tenda. Ada yang mengurusi sablon, ada yang me­nyumbangkan keahlian berorganisasi. Semua terwadahi.
Dengan merendah Habib Muham­mad Al-Bagir mengatakan bahwa dirinya hanya menjadi pendorong dan pena­sihat, sedangkan semua yang menja­laninya jama’ah dan murid-muridnya.
“Mereka ini punya semangat yang tinggi untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, yang mencintai majelis ini bukan hanya para orang tua, pemuda, dan remaja, tapi juga anak-anak kecil. Mereka ini suka datang ke rumah saya, mau minta bendera-bendera kecil. Yah, namanya anak-anak.... Semangat dan cinta mereka tumbuh karena fithrah yang Allah berikan, subhanallah.
Di samping itu, bilamana pengajian kita adakan, ada pembacaan tilawatul Qur’an, dan yang membaca itu anak kecil, sehingga ini menjadi daya tarik yang luar biasa buat siapa saja, bahwa penanaman aqidah dan syari’ah, pena­naman mahabah kepada Rasulullah SAW, dilakukan sejak usia dini.”
Namun ia tekankan juga kepada jama’ah, “Ini bukan majelis sekadar rame-rame. Ini majelis yang harus tetap berada pada koridor Islam yang benar. Jama’ah laki-laki dan perempuan tidak diperkenankan campur baur, dan pem­bacaan Al-Qur’an dan Maulid harus di­simak baik-baik, agar turun keberkahan dari Allah Ta’ala buat semua.”
Ia berharap, semoga jama’ahnya meneladani akhlaq Rasulullah SAW.
Tentang nama Warotsatul Musthofa, nama itu diperoleh lewat kontak bathin dengan gurunya, Tuan Guru Mulia Habib Umar Bin Hafidz. “Bisyarah ini saya peroleh dari Guru Mulia Al-Habib Umar Bin Hafidz saat beliau berkunjung ke Majelis Darul Mushthafa Petamburan beberapa tahun yang lalu,” kata habib muda keturunan kelima Habib Utsman ini.
Wilayah dakwah dengan bendera Warotsatul Musthofa yang telah berjalan selama empat tahun ini kini mencakup sebahagian besar wilayah Jakarta, terutama Jakarta Barat dan Jakarta Pusat, sebahagian Jakarta Timur dan Selatan, hingga sampai ke Tangerang, Parung, serta Gunung Sindur di Bogor.

Kesan dan Pesan para Guru
Guru yang sangat dikagumi Habib Muhammad Al-Bagir di antaranya Habib Muhammad Rizieq Syihab. “Beliau guru pertama ana saat masih dalam usia belia dan beliau baru pulang belajar dari Arab Saudi,” ujarnya. Kemudian Habib Ali bin Muhammad Ba’bud (Lawang), Habib Munzir Al-Musawa dan Habib Quraisy Baharun (Darus Sa’adah Cipayung), Syaikh Obeid Balas’ad (Darul Mush­thafa), almarhum Habib Umar bin Ab­dullah Alatas (Berdikari, Rawabelong), dan masih banyak lagi. Mereka ini benar-benar mengisi relung hatinya. Maka wajarlah, keberkahan selalu mengiringi habib muda ini.
Sedang guru yang sangat memoti­vasinya untuk terjun ke dunia dakwah yakni Tuan Guru Mulia Al-Habib Umar Bin Hafidz, yang cara mendidik dan mengajarnya sungguh luar biasa. Ia seperti orangtua kepada anaknya, penuh kasih dan mengemong murid-murid dengan ilmu dan akhlaqnya. “Bila saya mendapati suatu hal yang bikin saya jenuh atau terbersit sesuatu hal yang tidak mengenakkan bathin,  usai shalat berjama’ah lalu berkesempatan memandang wajah Guru Mulia, hilang­lah semua permasalahan itu, tanpa ber­keluh kesah atau curhat kepada beliau. Bahkan berganti dengan ketenangan bathin. Maka, bagaimana bila mendapati senyuman beliau. Subhanallah...,” kata Habib Bagir dengan mata berbinar
Begitu juga dengan gurunya sejak ia masih kecil dan masih bermulazamah dengannya hingga kini, yakni Habib Muhammad Rizieq Syihab. Habib Rizieq selalu menekankan pesan dan kesan yang dalam, baik saat ia hendak berang­kat ke Tarim maupun hingga sekembali­nya ke tanah air, dan mengaji lagi ke­padanya, “Jangan pernah berhenti ber­juang untuk berdakwah, istiqamah da­lam mengingatkan kebaikan dan kebe­nar­an kepada orang lain.”
Lalu ia menambahkan, “Pesan beliau yang sangat ana pegang adalah, ‘Ja­ngan berbicara dengan niat orang mau dan harus mendengarkan pembicaraan kita. Katakan, yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil. Jangan meminta sesuatu kepada orang. Jangan mengandalkan keindahan retorika atau ceramah yang bagus, yang hanya membuat orang senang tapi tidak menyentuh hati orang yang didakwahi, apalagi menimbulkan akhlaq yang tidak bagus. Yang terpen­ting adalah menjaga akhlaq’.”
Begitupun dengan sang ayah. Ada pesan dari ayahnya yang hingga hari ini terus dijaga. “Saya ingat, waktu itu saya sedang membenahi pakaian ke dalam koper saya saat detik-detik keberang­kat­an dari rumah menuju bandar udara, un­tuk berangkat belajar ke Tarim. Abah sam­bil memandangi saya berkata, ‘Ya Muhammad Al-Bagir, nanti sepulang belajar dari Tarim jangan bawa pulang apa pun. Satu saja yang dibawa pulang: akhlaq! Abah cuma berharap satu hal itu. Kitab-kitab boleh dibawa pulang. Pakai­an tinggalkan saja, kasih buat orang-orang di sana.’ Pesan itulah yang terus saya pegang hingga kini,” demikian Habib Bagir mengenang.
Ya, baginya, akhlaqlah yang pokok, tonggak amal dan mu’amalah kepada siapa pun. Tidak memandang status se­seorang, apalagi ukuran-ukuran duniawi. Bahkan seorang yang dikatakan alim pun dapat tergelincir dalam hal ini.
Ia menuturkan, “Seorang jama’ah ana punya kakak cacat seumur hidup. Sering kali ia menanyakan diri ana kepada adiknya yang ikut majelis ana. Pengin ketemu, katanya. Walhasil, ana yang pengin datang ketemu kakaknya. Subhanallah, ia nggak menyangka malah ana yang datang, dan ia terharu.
Ana memang selalu berupaya agar ana bergaul dengan akhlaq yang mulia, seperti yang dipesankan Abah dan guru-guru ana.”

Meneladani Akhlaq Rasulullah
Ketika alKisah menanyakan ihwal cita-cita, Habib Muhammad Al-Bagir mengatakan, cita-citanya bukan seperti cita-cita kebanyakan orang, yang pada umumnya untuk urusan pribadi. Ia ber­cita-cita ingin jama’ahnya dan umat ini punya akhlaq seperti akhlaq Rasulullah SAW dan berjalan pada jalan yang diridhai Allah Ta’ala.
Cita-cita lainnya, ia berharap, lewat Majelis Warotsatul Musthofa, kelak ia bisa membangun pesantren, lembaga-lembaga sosial, sehingga ada wadah buat orang-orang susah yang belum berkesempatan menimba ilmu. Sesuai namanya, Warotsatul Musthofa, yang berarti “warisan Baginda Nabi Muham­mad SAW”, tidak mewariskan dinar ataupun dirham, melainkan mewariskan ilmu. Dan warisan itu bukan hanya hak dzurriyyahnya, tapi juga seluruh umat­nya. “Mudah-mudahan ada jalan untuk niatan baik ini lewat orang-orang yang baik, amin...,” katanya penuh harap.
Habib Bagir juga ada niat untuk menulis, di antara kesibukan mengajar dan berdakwah. Sebahagian dari fawaid (catatan atas syarah ilmu yang disam­pai­kan guru-guru secara lisan) dan apa yang terbetik di hati, sejauh ini sudah banyak dirangkumnya. Namun langkah konkret yang kini tengah difokuskannya adalah mengumpulkan dan menginven­tarisir karya-karya kakeknya, Habib Utsman bin Abdullah Bin Yahya, yang termasyhur sebagai mufti Betawi dan penulis kitab yang sangat produktif.
Ada kurang lebih 160 buah karya Habib Utsman yang ada di berbagai negeri dan daerah. Di Hadhramaut sen­diri, Habib Bagir mendapatinya di per­pustakaan Habib Abdullah bin Husein Bin Thahir, seorang ulama penulis ke­namaan. Begitu pun dari beberapa ulama atau kiai Betawi di Jakarta, ada beberapa karya Habib Utsman yang dikoleksi para kiai ini dalam bentuk cetakan lama. Sedangkan yang di Belanda, ada di perpustakaan Univer­sitas Leiden.
Habib Bagir ingin agar jama’ah dan umat bisa menggali karya-karya Habib Utsman ini dan memahaminya kembali. Dengan cara, ia mempermudah bahasa­nya dari bahasa Melayu lama, atau menerjemahkan yang berbahasa Arab.
Untuk saat ini, ia mengajarkan kitab Sifat Dua Puluh dalam majelis-majelis yang diadakan Warotsatul Musthofa. Ternyata, sambutannya luar biasa. Dari para kiai dan habaib, Habib Bagir terus mendapat dorongan untuk mensyiarkan kembali turats (karya) Habib Utsman.
“Habib Ali Bin Sahil, orangtua dan juga guru ana, berkata kepada ana, ‘Kitab jid (yakni Habib Utsman) mesti kita hidupkan lagi, ya Muhammad Al-Bagir...’. Begitu pun saat di Hadhramaut, ada seorang kakek ana yang juga ulama di sana, cicit langsung Habib Utsman, Habib Ali bin Muhammad Alaydrus, yang ana mengaji kepadanya setiap Kamis, berpesan, ‘Kalau bukan kita yang membaca karangan-karangan Habib Utsman, siapa lagi?’ Inilah kewajiban yang harus kita tunaikan dari para orangtua kita,” katanya penuh semangat.
Alhamdulillah, para keturunan Habib Utsman yang lainnya bahu-membahu untuk menghidupkan atsar (pening­gal­an) dan turats (karya)-nya. Ada Habib Ahyad Banahsan di Ma’had Al-‘Abidin Jakarta Timur, dan dari cucu langsung Habib Utsman, yakni Habib Abdullah bin Yahya bin Utsman Bin Yahya, di Sudi­mara, Jom­bang, yang menghidupkan pemba­ca­an kitab-kitab Habib Utsman di ma­jelisnya, serta masih banyak lagi para keturunannya. Bahkan banyak juga ma­jelis-majelis yang diasuh kalangan kiai dan asatidz Betawi yang dalam majelis­nya menggunakan kitab-kitab karya Habib Utsman. Inilah mudah-mudahan bentuk penghargaan atas keilmuan Habib Utsman dan buah amalnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tahun Baru Hijriyyah
Menutup wawancara dengan habib muda yang murah senyum ini, ia me­nyam­paikan pesan tentang Tahun Baru Hijriyyah yang akan kita lalui sesaat lagi. Hendaknya kita mengenang hijrahnya Nabi SAW dan para sahabat dan meng­ambil ibrahnya. Mari berhijrah dari ke­adaan yang tidak diridhai Allah menuju keridhaan-Nya. Menjadikan hari-hari kita ke depan kepada hal yang lebih baik lagi, sebagaimana Baginda Nabi SAW men­jadikan hari-hari dalam kehidupannya da­lam keadaan yang suci dan baik.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhi­yallahu ‘Anhu berkata, “Al-yawm ‘id, bukrah ‘id, ams ‘id, kullu yawmin la na’shi wa la dzanba fihi fahuwa ‘id.” Yang arti­nya, hari ini adalah hari raya, besok hari raya, bahkan kemarin juga hari raya. Setiap hari yang tidak kita isi dengan kemaksiatan dan dosa, itu adalah hari raya. Maka dari itu, mudah-mudahan, mem­buka lembaran baru di Tahun Baru Hijriyyah ini, kita semua selalu memper­baharui hidup dalam keadaan yang diridhai Allah SWT. Amin.

Habib Ali bin Sholeh Alatas

Habib Ali bin Sholeh Alatas Pencipta Langgam Ad-Diba’i
www.majalah-alkisah.comKala itu, ia membaca mengikuti apa yang didengar dan diajarkan ayahnya datar saja, tidak ada langgam. Berkat kecerdasannya yang lekat dengan dialek Betawi ini, ia menciptakan langgam sendiri khas Hadhrami.

Memasuki bulan Rabi’ul Awwal, peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW mulai terasa. Satu hari bisa sampai tiga, em­pat, sampai lima acara. Di Indonesia, peringatan Maulid terus bergeliat hingga memasuki bulan Shafar, bahkan ada yang merayakannya dibarengi dengan pe­ringat­an Isra Mi’raj. Hari-hari sepan­jang bulan Maulid menjadi begitu sibuk. Ini pun dirasakan oleh Habib Ali bin Sholeh Alatas.
Tiap kali perayaan Maulid Nabi, ha­bib berkepribadian ramah ini tidak per­nah absen menghadiri undangan melan­tunkan kitab Maulid Ad-Diba’i dengan suaranya yang merdu, bahkan hingga ke luar negeri. Hebatnya, ratusan bait syair tentang sejarah kehidupan Rasulul­lah itu ia bacakan tanpa melihat kitabnya, ia hafal di luar kepala.
Ihwal kepiawaian Habib Ali mem­baca kitab Maulid karya Syaikh Abdur­rah­man Ad-Diba’i ini berasal dari sang kakek, Ha­bib Muhammad bin Muhsin Alatas, gene­rasi pertama habaib yang menjejakkan kaki di Bekasi, dan ayah­nya sendiri, Habib Sholeh bin Abdullah Alatas.
Ketika Habib Sholeh wafat pada 10 Muharram atau 23 Januari 1975, Habib Ali mulai sering diminta membaca Maulid Ad-Diba’i di berbagai tempat. Ia juga me­lanjutkan kebiasaan sang ayah, mem­baca Maulid tersebut setiap malam Jum’at di mushalla yang didirikan ayah­nya. Dari seringnya membaca, habib kelahiran tahun 1950 ini akhirnya hafal di luar kepala.
Kala itu, ia membaca mengikuti apa yang didengar dan diajarkan ayahnya datar saja, tidak ada langgam. Berkat kecerdasannya yang lekat dengan dialek Betawi, ia menciptakan langgam sendiri khas Hadhrami yang begitu indah. Suara­nya yang merdu makin menyempurnakan langgam bacaan Maulid-nya.

Rekaman Maulid dan Shalawat
Tahun 1990, Habib Ali bin Sholeh Alatas diminta oleh Radio Asyafi’iyyah, Jatiwaringin, untuk membacakan Maulid Ad-Dibai yang disyiarkan secara luas. Berawal dari situlah langgam irama Mau­lid-nya yang khas segera menarik per­hatian masyarakat luas. Sejak itu pula undangan membaca Maulid Ad-Dibai se­makin mengalir. Qari terkenal Indone­sia, Muammar Z.A., juga sempat memu­ji­nya dan memintanya rekaman.
Pada tahun 1993, Habib Ali diminta rekaman oleh perusahaan Virgo Record. Setelah album perdananya, berturut-turut permintaan rekaman berdatangan dari Naviri Record, dan beberapa studio rekaman lain, untuk melantunkan ratib, Simthud Durar, dan terakhir kumpulan shalawat yang diiringi organ tunggal. Sebagian album kaset hasil rekamannya tersebut hingga kini masih disimpan rapi di rumahnya. Bahkan alKisah mendapat­kan oleh-oleh kaset rekaman shalawat dari Habib Ali sepulang wawancara di kediamannya di Jalan Kartini, Bekasi.
Selain sibuk membaca Maulid Ad-Dibai, Habib Ali juga sibuk mengajar dan berdakwah khususnya mengajar dan mengasuh ta’lim peninggalan sang ayah, Majelis Ta’lim Ar-Ridwan. Selain itu, ia juga mengajar di beberapa majelis ta’lim di antaranya di Pengasinan, Ke­mayoran, Cikuning, Pondok Kelapa, Jati­makmur, dan Bekasi. Semua aktivitas mengajarnya itu ia lakukan hanya ingin mengamalkan sedikit ilmunya seraya berharap keberkahan. Dalam setiap ta’limnya, ia lebih menekankan akhlaq dengan cara mencoba mencontohkan. Ini diambilnya dari apa yang telah di­ajar­kan ayahnya, yang begitu mementing­kan pendidikan akhlaq.

Mengutamakan Akhlaq
Habib Ali kecil banyak belajar agama kepada ayahnya. Menurutnya, ayahnya ter­bilang cukup keras dalam mendidik diri­nya. Apalagi kalau soal pendidikan agama dan akhlaq. Ia kerap dimarahi bila tidak me­nuruti nasihat abahnya. Se­masa men­didiknya, ayahnya sangat me­nekankan pendidikan akhlaq dan moral. “Orang ber­ilmu belum tentu berakhlaq, tetapi orang yang berakhlaq sudah tentu berilmu. Biar ilmunya banyak kalau akh­laqnya rendah, rendah derajatnya. Se­baliknya, biarpun sedikit ilmunya kalau tinggi akhlaqnya, ting­gi pula derajatnya,” kata Habib Ali me­nirukan kata-kata ayahnya.
Sungguh ironi, belakangan berkem­bang fenomena seorang berilmu namun tidak berakhlaq. Ini menyedihkan. Me­reka yang katanya alim (berilmu) sering terlihat berdakwah hingga ke pelosok desa tanpa mengindahkan adab dan akhlaqnya. Banyak kasus para alim yang nota bene tamu undangan tidak memiliki ihtiram (etika) dengan tokoh masyarakat dan agama setempat.
Misalnya, tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada para tokoh agama se­tempat, mereka membuka pengajian, membahas kitab, dan sebagainya. Padahal, tradisi selama ini, para dai yang akan menggelar pengajian itu sebelum­nya meminta restu kepada para sesepuh keagamaan setempat, baru mereka be­rani membuka pengajian.
“Padahal akhlaq adalah wujud dari pengamalan ilmu. Bukankah Rasulullah sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlaq umatnya?” kata Habib Ali.
Menurut Habib Ali, perilaku seperti itu jelas bukan perilaku orang-orang alim. “Seperti yang diajarkan abah saya, yang juga kerap mendidik dan berpesan kepada anak-anak agar bisa menjadi manusia yang berilmu sekaligus berakh­laq. Konsep ajaran Islam itu indah dan pe­nuh penghormatan. Anak harus meng­hormati orang tua, orang tua me­nya­yangi anak dan yang lebih muda. Dan akhlaq kepada sesama, sekalipun bukan sesama muslim, tetap harus saling menghormati.”
Selain belajar agama dan akhlaq kepada ayahnya, Habib Ali juga belajar ilmu fiqih kepada Mu’allim Mu’thi dan bel­ajar membaca Al-Qur’an kepada Ustaz Muhammad Ali, yang adalah guru me­nga­ji setempat. Ketika beranjak dewasa, secara intensif Habib Ali mengikuti pengajian Habib Abdurrahman Asegaf, di Bukit Duri.
Kini di usianya yang telah memasuki 62 tahun, Habib Ali semakin merasa ber­syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan kepadanya. Dari pernikahannya dengan Syarifah Lu’lu binti Abdullah Alatas, ia dikaruniai tujuh orang anak. Alhamdulillah, mereka mengikuti jejak Habib Ali, berdakwah dengan caranya masing-masing.
Dalam mendidik putra-putrinya, Ha­bib Ali terbilang cukup demokrat. Ia tidak pernah memaksa anaknya untuk men­jadi ini dan itu, apalagi memaksa mengi­kuti jejaknya. “Biar anak yang memilih ja­lannya sendiri, orangtua tinggal men­dukung. Yang penting mereka tetap berada di jalan Allah,” tuturnya.
Menurut Habib Ali, seyogia­nya orang­tua tidak mendidik anak agar takut kepada mereka, me­lain­kan bagaimana mereka bisa secara sadar dan ikhlas meng­hor­mati dan berbakti. Dengan me­nanamkan ilmu agama dan akhlaq, ini mudah. Alhamdulillah Habib Ali telah mempraktek­kan­nya. Alhasil, anak-anak­nya tahu apa yang bisa dipersembahkan untuk mendapatkan ridha orang­tua. Bah­kan anak keempatnya, Habib Abdullah, santri Hadhra­maut, ternyata juga sudah me­ngua­sai Maulid Ad-Dibai dan siap meneruskan jejaknya.
****
Habib Abdullah bin Ali Alatas
Meraih Ridha Abah untuk Menggapai Ridha Allah

Nasihat dan didikan yang ditanamkan Habib Ali bin Sholeh Alatas begitu berbe­kas pada benak Habib Abdullah bin Ali Alatas. Anak keempat dari tujuh bersau­dara ini bangga mendapatkan pendidik­an langsung dari abah dan uminya: Ha­bib Ali bin Sholeh Alatas dan Syarifah Lu’lu binti Abdullah Alatas.
Sejak kecil kedua orangtuanya be­gitu disiplin menanamkan pendidikan agama dan akhlaq. Cara yang dulu per­nah diajarkan oleh njid-nya (kakek), Habib Sholeh bin Abdullah Alatas.
Selain belajar agama kepada orang­tua, Habib Abdullah kecil juga belajar di Madrasah Ibtidaiyyah pada sore hari selepas belajar di Sekolah Dasar Negeri.
Setamat sekolah dasar, ia melanjut­kan pendidikannya ke Pondok Pesan­tren di Bangil, Jawa Timur, selama dua ta­hun. Ingin terus mendalami agama, Habib Abdullah melanjutkan nyantri ke Rubath Tarim, Hadhramaut, selama em­pat tahun.
Tahun 2002 Habib Abdullah diminta kembali ke tanah air oleh Habib Ali untuk meneruskan dakwahnya. Maklum, kala itu kesehatan Habib Ali mulai menurun. Ia pun mencoba mengamalkan ilmunya dengan menggantikan abahnya berdak­wah, mengisi ta’lim, dan membaca Maulid Ad-Dibai.
Dalam pembacaan Maulid Ad-Dibai, ia pun mencontoh langgam dan cara abah­nya. “Menurut saya, langgam Abah sudah sangat bagus, jadi saya menerus­kan saja, tidak perlu menciptakan lang­gam sendiri. Kalau sudah ada yang lebih bagus, kenapa tidak kita teruskan,” kata Habib Abdullah.
Menurut Habib Abdullah, dahulu, njid-nya, Habib Sholeh, belum memiliki lang­gam khusus dalam membaca Mau­lid Ad-Diba’i, datar saja. Maka abahnya, Habib Ali, menciptakannya, dengan be­gitu indah, langgam khas Hadhrami. Oleh karena itu, kini ia tidak perlu men­ciptakan langgam baru, melainkan me­les­tari­kannya.
Suara Habib Abdullah tidak kalah dengan Habib Ali. Ia menuruni suara emas Habib Ali. Jama’ah pun menerima­nya dengan hangat. Permintaan mem­baca Maulid Ad-Dibai semakin banyak. Apalagi di musim Maulid seperti seka­rang ini. Bahkan undangan yang memin­tanya membaca Maulid Ad-Diba’i pun da­tang dari mancanegara.
Kini, Habib Abdullah telah menjadi penerus Habib Ali, pembaca Maulid Ad-Dibai.
Habib kelahiran 15 Maret 1983 ini me­rasa senang dan bangga bisa mene­rus­kan jejak abahnya. Ia terharu dengan apa yang telah ia lakukan. Rasa haru itu makin terasa ketika ia membaca se­jarah Nabi yang terangkum dalam Maulid Ad-Diba’i di ta’lim rumahnya sendiri mau­pun di pesantrennya, di kawasan Bantar Gebang, Bekasi. Tanpa disadarinya ia kerap menitikkan air mata.
Harapan habib yang telah menikahi Sya­rifah Jihan binti Segaf Alatas ini hanya satu, yaitu akan terus melanjutkan dakwah abahnya, demi meraih ridha orangtua, karena di situlah terletak ridha Allah SWT.
Akhir perbincangan dengan alKisah, Habib Abdullah berharap, semoga pe­rayaan Maulid tidak hanya menjadi upa­cara seremonial biasa. Namun lebih dari­pada itu, membawa spirit perubahan un­tuk umat dan bangsa.

Habib Muhsin bin Ali Bin Hamid

Habib Muhsin bin Ali Bin Hamid : Agar Rasulullah SAW Tersenyum…
www.majalah-alkisah.comSekalipun jadwal mengajarnya cukup padat, ia tidak berhenti untuk menuntut ilmu, belajar, dan terus belajar. Prinsip yang dipegangnya adalah seperti yang diucapkan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki kepada murid-muridnya, “Maa Zilta Thaliban (Sampai kapan pun, engkau tetap seorang pelajar/penuntut ilmu).”
Jasa dan pengorbanan Rasulullah SAW terhadap umatnya begitu besar. Karena itu, seyogianyalah setiap insan mus­lim menjadikan hari-harinya sebagai sarana untuk mengenang itu semua. Ba­gaimana seorang muslim harus men­cin­tai beliau sepenuh hatinya. Setelah itu, yang terpenting kemudian adalah mem­bahagiakan dan membuat beliau terse­nyum melihat umat akhir zaman ini. Sa­lah satu cara yang dapat kita lakukan ada­lah umat Islam  bersatu sebagai umat Rasulullah SAW, menghindari per­tikaian sesama kaum muslimin.
Bagaimana gambaran jasa dan pe­ngorbanan Rasulullah SAW? Tentu saja itu sangat sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Namun demikian, kisah-kisah tentang berderainya air mata Rasulullah SAW dalam banyak kesempatan yang te­rekam di berbagai riwayat cukup men­jadi gambaran betapa beliau sangat men­cintai umatnya, dan telah melewati hari-harinya dengan hari-hari penuh pe­ngorbanan, demi keselamatan dunia dan akhirat umat yang sangat dicintainya ini.
Dikisahkan, sebagaimana disebut­kan dalam buku Air Mata Sang Nabi, ketika surga dan neraka telah terkunci dan se­mua umat manusia telah dima­suk­kan ke dalam surga dan neraka se­suai dengan amalannya dan mereka te­lah menikmati ganjaran atau merasakan hukuman atas apa yang mereka kerja­kan dalam waktu yang begitu lama, Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jib­ril, subhanallah, se­sungguhnya Allah Maha­tahu, ”Apakah ada umat Muham­mad SAW yang masih tertinggal di da­lam neraka?”
Maka Malaikat Jibril pun pergi ke ne­raka Jahannam.
Neraka Jahannam, yang begitu ge­lap, tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril.
Para penghuni Jahannam pun ber­tanya-tanya, siapakah yang datang, me­nga­pa Jahannam tiba-tiba terang bende­rang.
Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih ter­selip di neraka Jahannam.
Tiba-tiba sekelompok orang ber­te­riak, ”Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri tahukan keadaan kami di tempat ini kepada beliau.”
Jibril pun keluar dari neraka Jahan­nam dan pergi ke surga untuk memberi­tahukan hal itu kepada Rasulullah.
Rasulullah begitu bersedih mende­ngar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridha ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walau dosanya sepenuh bumi.
Rasulullah SAW pun bergegas hen­dak pergi ke neraka.
Tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun  boleh melintasi garis batas itu kalau tidak seizin Allah SWT.
Rasulullah SAW pun mengadu ke­pada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan.
Tapi sesudah itu Allah SWT meng­ingatkan Rasulullah bahwa umatnya itu telah meremehkan beliau, ”Ya Allah, izin­kan aku memberi syafa’at kepada me­reka itu walau mereka hanya punya iman sebesar dzarrah.”
Sesampainya Rasulullah SAW di neraka Jahannam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu.
Penduduk Jahannam pun berucap, ”Apa yang terjadi, mengapa api Jahan­nam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Aku, Mu­hammad, yang datang, siapa di an­tara kalian yang jadi umatku dan punya iman sebesar dzarrah, aku datang untuk mengeluarkannya.”
Demikianlah gambaran kecintaan Rasulullah SAW seperti dikisahkan pada buku tersebut. Kecintaan yang begitu besar kepada umatnya, yang kemudian tak jarang harus beliau bayar dengan keringat, air mata, bahkan darah beliau, sebagai jasa dan pengorbanan beliau demi keselamatan umatnya. Bukan hanya di dunia, bahkan beliau terus memperjuangkannya sampai di akhirat kelak, di hadapan Allah SWT.
”Lalu bagaimana ke­cintaan kita se­bagai umat Rasulullah SAW kepada pri­badi yang begitu agung itu?” Demikian yang ditulis sang penulis buku di akhir kisah.
Siapakah penulis buku Air Mata Sang Nabi tersebut? Ia adalah dai muda yang kini berdiam di kota Malang, Habib Muhsin bin Ali Bin Hamid, sosok yang menjadi figur kita kali ini.
Berprestasi sejak Usia Dini
Meski masih berusia muda, Habib Muh­sin sudah cukup produktif. Karya-karyanya telah banyak tersebar. Di antara yang sangat diingat orang adalah buku karyanya yang memuat biografi Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, yang berjudul Mutiara Ahlul Bait dari Tanah Haram.
Habib Muhsin lahir di Sumenep, Madura, pada tanggal 10 Juli 1983, dari pasangan Habib Ali bin Abu Bakar Bin Hamid dan Syarifah Nur Sukainah binti Hasan Al-Jufri. Ia terlahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara.
Sebagaimana anak-anak seusianya, ia menjalani pendidikan umum yang di­dapatnya di SD Ne­geri Pajagalan 1 Su­me­nep, yang kemu­dian diteruskannya di SMP Negeri 1 Sumenep. Tahun 1999, ia me­lanjutkan pendidikannya di SMU Ne­geri 4 Malang.
Di samping menjalani pendidikan umum, pendidikan keagamaan pun telah ditekuninya sejak kecil, yaitu sejak masa-masa belajarnya di SD-SMP di Sumenep, dengan belajar di Yayasan Pendidikan Al-Wathaniyyah Al-Islamiy­yah (YPAA), sebuah madrasah yang cu­kup terkenal di Sumenep, sampai tingkat tsanawiyah, di bawah asuhan beberapa ulama kota Sumenep, di antaranya Us­tadz Nauval Bakhabazy, Ustadz Mus­thafa bin Ahmad Baharun (adik Habib Hasan bin Ahmad Baharun, Pendiri Ponpes Darul Lughah Wad Da’wah, Raci, Bangil, Pasuruan), Ustadz Ahmad Bakhabazy, Ustadz Badar Bakhabazy, Ustadz Luthfi Bakhabazy, Ustadz Basyir Beik, Ustadz Mudhar Beik.
Sejak kecil kecerdasannya tampak menonjol di tengah-tengah kawan-ka­wannya. Tak aneh, saat kelulusan se­kolah dasar, dengan danem 48.9 untuk lima mata pelajaran, ia menjadi peraih danem tertinggi ketiga se-Jawa Timur kala itu. Prestasi di madrasah pun cukup memuaskan. Ia tercatat pernah menjadi bintang pelajar Madrasah YPAA. Begitu pun saat duduk di bangku SMP, ia per­nah mengikuti lomba pidato dan meraih juara pertama.
Selepas SMP, ia hijrah ke kota Ma­lang. Di Kota Apel ini ia melanjutkan pen­didikan SMU sambil secara tekun mem­perdalam ilmu agama kepada beberapa ulama Malang, di antaranya Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus, Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad, Habib Husein Bin Agil, Habib Abdullah Maula­khelah, dan beberapa tokoh ulama lain­nya di kota tersebut.
Mengajar dan Terus Belajar
Habib Muhsin melepas masa lajang­nya dengan menikahi putri Habib Abu Bakar bin Ali bin Abu Bakar bin Muham­mad Assegaf Gresik. Akad Nikah digelar bersamaan dengan Rauhah dan Haul Al-Imam Al-Habib Abu Bakar bin Muham­mad As-Segaf pada tanggal 15 Dzul­hij­jah 1431 H/ 22 November 2010.
Selain tetap menjadi santri atau pe­nuntut ilmu, ia juga berusaha menyebar­kan ilmu yang didapat dengan mengajar dan berdakwah di beberapa majelis di Malang dan sekitarnya. Hampir setiap hari ada jadwal mengajar dan berdak­wah. Tidak hanya di dalam kota, tapi sam­pai masuk ke pelosok-pelosok, se­perti Desa Baran Kidal, Ringin Anom, Tumpang, bahkan Turen, yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota.
Di antara kitab-kitab yang menjadi materi ajarnya adalah Minhajul ‘Abidin, Bidayatul Hidayah, An-Nashaih Ad-Diniyyah, Sullamut Taufiq, Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthafa, Muhammad Al-Insanul Kamil, Maqalun Nashihin.
Di rumah kediamannya, Perum Asabri Bumiayu Indah Blok H-4, Bumi­ayu-Malang, habib muda yang sangat menyukai pelajaran sirah/sejarah ini juga membuka majelis ta’lim setiap Sabtu ba’da maghrib. Dimulai dengan pemba­caan Ratib Al-Haddad, kemudian penga­jian kitab An-Nashaih ad-Diniyyah. Saat pengajian berlangsung, rumah dan ha­laman penuh dengan jama’ah, baik laki-laki maupun perempuan.
Sekalipun jadwal mengajarnya pe­nuh, ia tidak berhenti untuk menuntut ilmu, belajar dan terus belajar. Prinsip yang dipegangnya adalah seperti yang diucap­kan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki ke­pada murid-muridnya, “Maa Zilta Thali­ban (Sampai kapan pun, engkau tetap seorang pelajar/penuntut ilmu).”
Dalam beberapa kesempatan ia me­lakukan rihlah ke beberapa daerah, ia tak melewatkan kesempatan untuk ber-istifadah (mengambil faidah) dari bebe­rapa ulama yang berdomisili di daerah itu. Seperti pada kesempatan lawatan­nya ke Jakarta, ia berziarah ke beberapa ulama terkemuka di Ibu Kota, di antara­nya Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf Bu­kit Duri, Habib Abdurrahman bin Mu­ham­mad Al-Habsyi Kwitang, dan para ulama Jakarta lainnya. Ketika di Malay­sia, ia pun ber­ziarah kepada Habib Ali bin Ja’far Al­aydrus, Batu Pahat, bebe­rapa bulan se­belum Habib Ali wafat. Se­mentara saat ia bertandang ke Singa­pura, ia tidak me­lewatkan kesempatan untuk berziarah ke makam Habib Nuh Al-Habsyi.
Yang Muda, Yang Produktif
Selain belajar dan mengajar, Habib Muh­sin juga banyak berpartisipasi dalam kancah dakwah melalui tulisan. Tulisan-tu­lisannya telah dimuat di sejumlah me­dia dakwah. Sampai saat ini pun ia masih aktif mengisi artikel Islami di buletin Wad Da’wah, yang berada di bawah penga­was­an Majlis Ta’lim wad Da’wah asuhan guru­nya, Habib Sholeh bin Ahmad Alaydrus.
Selain menulis di beberapa media, dai muda kita ini pun telah menelurkan se­jum­lah karya berbobot. Sebagian di an­taranya telah diterbitkan dan telah ter­sebar luas di tengah masyarakat. Di an­tara karya-karyanya itu adalah Mutiara Ahlu Bait dari Tanah Haram - Sebuah Biografi Al Imam As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, Makkah, yang di­terbitkan atas kerja sama Madinatul Ilmi dan Penerbit Ar Raudho, Malang (sampai saat ini sudah cetakan kedelapan), Mu­hammad SAW Kado Ilahi yang Dinanti - Sebuah buku yang membahas tuntas se­putar keajaiban Milad atau kelahiran Rasulullah SAW, juga diterbitkan oleh Pe­nerbit Ar Raudho, Malang, Lawami’ul Anwar fi Ma’rifah Al Musthafa Al Mukhtar, sebuah kitab (berbahasa Arab) yang mengupas kemuliaan Rasulullah SAW serta sifat-sifat agung beliau SAW (kitab ini masih berupa tulisan tangan/manus­krip), Kitabul Arba’in Fil Adzan wal Iqa­mah, sebuah kitab yang berisikan 40 ha­dits yang berkaitan dengan tata cara serta keutamaan adzan dan iqamah, 2002, terjemah kitab Ad Da’wah at-Tammah wa at-Tadzkirah al-’Ammah, karya Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (be­lum diterbitkan), terjemah kitab Mukh­tashar Jalil Al-Malibari, dengan judul Un­taian Mutiara Nasehat Syaikh Zainuddin Al Malibari, 2003 (belum diterbitkan), Niat-niat dalam Pernikahan, 2006 (diperba­nyak sendiri), Sekelumit Biografi Imam Al-Bukhari dan Keutamaan Membaca Kitab Shohih Al-Bukhari, 2007 (diperbanyak sen­diri), Taqwa Bekal Dunia Akhirat, 1998 (be­lum diterbitkan), Ilmu Cahaya dari Allah, 1998 (belum diterbitkan, dan kedua buku ini ditulis ketika ia masih duduk di SMP), Bagaimanakah Hukum Rokok?, 2003 (diperbanyak sendiri, belum diterbit­kan), dan yang terakhir adalah buku yang cuplikan kisahnya ditulis di awal tulisan ini, yaitu Air Mata Sang Nabi, yang baru-baru ini diterbitkan oleh Penerbit Ar Raudho.
Produktivitasnya dalam menulis juga sebanding dengan kecintaannya dalam mem­baca, hobinya sejak masih kecil. “Saya sangat suka mengoleksi kitab-kitab, sejak sekolah madrasah dulu sampai sekarang. Bahkan saya punya perpustakaan pribadi di rumah saya, ada sekitar delapan almari besar koleksi kitab saya. Sebagian saya beli di dalam ne­geri tapi ada pula yang saya beli dari luar negeri dengan perantara beberapa te­man di Jeddah dan Makkah. Saya ber­harap, kitab-kitab saya ini nantinya dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh anak-cucu saya,” ujarnya memungkasi perbin­cang­annya dengan alKisah.

Biografi

More on this category »

Mengenang Habib Mundzir

More on this category »
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Hubbun Nabi SAW - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger