Alfiyah Ibnu Malik - Hubbun Nabi SAW
Headlines News :

NU

s

s

Kubah Masjid Rasulullah Muhammad SAW

Kubah Masjid Rasulullah Muhammad SAW

Shalawat Jalan Selamat

Shalawat Jalan Selamat
Home » » Alfiyah Ibnu Malik

Alfiyah Ibnu Malik

Written By Ahmad Maslakhudin on Sabtu, 13 Juli 2013 | 13:34


Ia meletakkan fundamen tema bahasan ilmu nahwu yang baru, yang belum pernah dikaji ahli nahwu sebelumnya, seperti bahasan na‘ibul fail, badal muthlaq, dan al-mu’arraf bi adatit ta’rif.
Bagi banyak pelajar bidang agama dan santri, Alfiyyah adalah kitab yang sudah tidak asing lagi. Nama ki­tab ini identik dengan kitab standar ilmu nahwu yang mereka pelajari di bangku-bangku madrasah dan pesantren.
Namun jangan terkecoh dulu, nama kitab Alfiyyah ternyata juga ada pada bagian fan keilmuan lainnya. MisalnyaAlfiyyah Ibn Sina dalam ilmu dasar ke­dokteran, Alfiyyah Al-‘Iraqi dan Alfiyyah As-Suyuthi dalam ilmu mushthalah hadits, Alfiyyah Ibn Al-Barmawi dalam ilmu ushul fiqh, Alfiyyah Al-Qubaqibi dalam ilmu balaghah. Jadi ketika sese­orang menyebutkan nama kitab Alfiyyah, tidak serta merta itu berkaitan dengan buku pelajaran ilmu nahwu.
Kata alfiyyah diambil dari kata alf, yang artinya “seribu”. Lalu dijadikan kata sifat dengan tambahan ya` dan ta` mar­buthah, yang mengandung arti “ribuan”. Kemudian alfiyyah menjadi istilah yang berkaitan dengan kitab prosa, berkaitan dengan bait-bait syair dengan tema ke­ilmuan beraneka ragam, mulai dari syair pujian hingga ilmu kedokteran, yang jum­lah baitnya mencapai seribu bait lebih atau kurang sedikit. Tujuan gaya penulis­an kitab ini demi memudahkan para pe­nuntut ilmu menghimpun pengetahuan dan mengingat perkara-perkara yang dituangkannya.
Tapi, kadung termasyhur bahwa Alfiyyah telah identik dengan sebuah karya di bidang ilmu nahwu hasil pena ulama bahasa kenamaan, Ibnu Malik. Maka jika kalangan santri dan pelajar madrasah ditanya ihwal kitab Alfiyah, umumnya mereka menunjuk pada kitab yang amat populer ini.
Kepopuleran sebuah khazanah kla­sik tidak saja terbangun oleh adanya jaringan sanad dan hubungan guru-mu­rid, namun juga dibarengi faktor penulis­nya. Maka, tak mengherankan, hukum alam juga berlaku pada khazanah turats(karya klasik), apa dan siapa yang paling bertahan eksistensinya dalam waktu yang demikian panjang yang telah ber­lalu.
Maka, berkait dengan kitab Alfiyyah Ibn Malik, yang sedemikian populer ini, perlu rasanya kita mengorek tokoh di balik karya ini dan muatan karyanya tersebut.
Dari Andalusia
Nama lengkap Syaikh An-Nahwiy Ibnu Malik, pengarang Alfiyyah, yang kita kaji ini, adalah Jamaluddin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Malik Ath-Tha‘i Al-Jayyani Asy-Syafi’i. Ia lahir pada tahun 1203 M/599 H di Jayyan, sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia.
Tidak banyak yang dapat digali dari masa kecilnya di Andalusia, lantaran masa-masa itu Andalusia tengah berada di jurang kehancuran oleh perebutan pe­merintahan kaum Nasrani. Bersama ke­luarga dan sejumlah kaum muslimin, ia hijrah ke belahan timur dunia Islam, saat Andalusia direbut tentara kerajaan Cas­tella Nasrani.
Al-Muqri, seorang penulis biografi ulama kenamaan, dalam kitabnya yang berjudul Nafh ath-Thayyib, meriwayat­kan, pada masa kecilnya, Ibnu Malik te­lah hafal Al-Qur’an dan belajar dasar-da­sar kaidah menulis dan membaca baha­sa Arab kepada Syaikh Tsabit bin Khay­yar, Syaikh Asy-Syalaubini, dan Syaikh Ahmad bin Nawwar. Ketiganya adalah ulama terpandang Andalusia.
Menginjak dewasa, berbarengan de­ngan runtuhnya Andalusia, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah haji dan meneruskan perjalanannya menem­puh ilmu ke Damaskus dan Aleppo. Di sana ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain ‘Alamuddin As-Sakhawi, Makram bin Muhammad Al-Qurasyi, Al-Hassan bin Shabbah, Syaikh Muwaffaquddin Ibn Ya’isy Al-Halabi. Kesemuanya adalah tokoh ilmu bidang bahasa dan nahwu terkemuka.
Di dua kota tersebut ini nama Ibnu Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuwan. Ia memang cerdas dan pemikirannya jernih. Ia selalu dikelilingi kaum terpelajar yang ingin menggali ilmu-ilmunya.
Sementara itu ia juga melakukan rihlah ke Himah dan Mesir untuk menim­ba pengetahuan dari para ulama dan guru-guru besar di negeri tersebut.
Kemudian ia kembali ke Damaskus dan diberi kepercayaan untuk mengajar di beberapa halaqah ilmu di Masjid Umawi. Selanjutnya ia juga diberi ke­percayaan sebagai pemimpin di Madra­sah Al-‘Adiliyyah Al-Kubra, sebuah sekolah ternama di Damaskus masa itu, hingga diangkat menjadi guru besarnya. Praktis, seluruh hidupnya dihabiskan di Damaskus hingga akhir hayat.
Ia banyak menampilkan teori-teori nahwu yang baru, yang menggambar­kan teori-teori madzhab nahwu Anda­lusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu dan tak dikaji pada masa sebelumnya. Seperti bahasan na‘ibul fail, yang oleh ahli nahwu sebe­lum masanya disebut maf’ul yang tidak disebut fa’il-nya; badal muthlaq, sebagai ganti badal ba’dh kull min kullal-mu’arraf bi adatit ta’rif, sebagai ganti at-ta’rif bi al.
Untuk menguatkan teorinya, sarjana besar kelahiran Andalusia ini senantiasa mengambil saksi (syahid) dari teks-teks Al-Qur’an. Kalau tidak didapatkan, ia me­nyajikan teks hadits. Kalau tidak didapat­kan lagi, ia mengambil saksi dari syair-syair sastrawan Arab kenamaan. Semua pe­mikiran yang diproses melalui para­dig­ma ini dituangkan dalam kitab-kitab karangannya, baik berbentuk nazham (syair puitis) maupun berbentuk natsar (prosa). Pada umumnya, karya tokoh ini lebih baik dan lebih indah daripada karya tokoh-tokoh pendahulunya.
Terlahirlah nama-nama besar di bi­dang bahasa dan umumnya di bidang aga­ma berkat polesan tangan dinginnya, seperti putranya, Badruddin Muham­mad, Badruddin Ibn Jama’ah (kepala hakim Mesir), Al-Muhaddits Abu Al-Hasan Al-Yunayni (ahli hadits terkenal), Ibnu An-Nahhas (ahli nahwu ternama), Abu Ats-Tsana‘ Mahmud Al-Halabi (pe­nu­lis populer di Damaskus dan Mesir).
Lebih dari 40 Ulama
Di kalangan ulama setelah masa Ibnu Malik, ada yang menghimpun se­mua tulisan Ibnu Malik. Dan ternyata tu­lisannya itu lebih banyak berbentuk na­zham, sebagaimana As-Suyuthi meriwa­yatkannya dalam kitabnya, Bughyat al-Wu’at.
Di antara karangannya adalah Na­zham al-Kafiyah asy-Syafiyah, yang ter­diri dari 2.757 bait. Kitab ini menyajikan semua informasi tentang ilmu nahwu dan sharaf yang diikuti dengan syarah­nya. Kemudian kitab ini diringkas men­jadi seribu bait, yang kini terkenal de­ngan nama Alfiyyah Ibn Malik.
Kitab ini bisa disebut khulashah, ring­kasan, karena isinya mengutip inti uraian dari Al-Kafiyah. Juga bisa juga disebutAlfiyyah, ribuan, karena bait syairnya terdiri dari seribu baris kurang atau lebih.
Kitab ini terdiri dari 80 bab, dan setiap bab diisi beberapa bait.
Bab yang terpendek diisi dua bait, seperti bab al-Ikhtishash. Dan bab yang terpanjang adalah Jama’ Taktsir, diisi 42 bait.
Dalam muqaddimahnya, kitab puisi yang memakai bahar rajaz (salah satu bentuk pontongan bait syair) ini disusun dengan tujuan, pertama, untuk meng­himpun se­mua permasalahan nahwiyah dan shar­fiyah yang dianggap penting. Kedua, menerangkan hal-hal yang rumit dengan bahasa yang singkat tetapi bisa meng­himpun kaidah yang berbeda-beda, atau dengan contoh yang bisa menggam­bar­kan hal-hal yang meme­nuhi persyaratan yang diperlukan oleh kaidah itu. Ketiga, membangkitkan pera­saan senang bagi orang yang ingin mempelajari isinya.
Semua itu terbukti, kitab ini lebih baik daripada kitab Alfiyah karya Ibnu Mu’thi, yang kurang populer di kalangan pelajar. Meskipun begitu, penulisnya tetap menghargai Ibnu Mu’thi, karena tokoh ini telah membangun kreativitas dan le­bih senior.
Kitab Khulashah, yang telah diterje­mahkan ke dalam banyak bahasa di du­nia, memiliki posisi yang penting dalam perkembangan ilmu nahwu. Berkat kitab ini dan kitab aslinya, nama Ibnu Malik men­jadi populer dan pendapatnya ba­nyak dikutip oleh para ulama, termasuk ulama yang mengembangkan ilmu nah­wu di Timur.
Ar-Radhi, seorang cendekiawan be­sar, ketika menyusun Syarh Al-Kafiyah kar­ya Ibnu Hajib, banyak mengutip dan mempopulerkan pendapat Ibn Malik. Dengan kata lain, dalam perkembangan nahwu setelah ambruknya beberapa aka­demi Abbasiyah di Baghdad dan merosotnya pamor para ilmuwan Daulah Fathimiyah di Mesir, para pelajar pada umumnya mengikuti pemikiran Ibnu Malik.
Sebelum kerajaan besar di Anda­lusia runtuh, pelajaran nahwu pada awal­nya tidak banyak diminati masyarakat. Namun seiring waktu, pelajaran ini men­jadi kebutuhan mendesak. Sehingga kegiatan menulis kitab tentang ilmu yang sangat menarik bagi kaum santri ini semakin dinamis. Dari situ muncul dan beredarlah banyak karya yang berbeda-beda, dari yang paling singkat sampai yang terurai panjang lebar.
Dari sekian banyak penulis itu adalah Ibnu Malik, Ibnu Hisyam Al-Anshari, dan As-Suyuthi. Karya mereka tentang kitab-kitab nahwu banyak menampilkan me­tode dan penyajian baru yang memper­kaya khazanah keilmuan. Walau demi­kian, banyak pula teori lama yang masih digunakan.
Mereka menampilkan gagasan dan kreativitas yang baru, seolah hidup me­reka disiapkan untuk menjadi penerus Imam Sibawaih, sang penggagas mun­culnya nahwu dan sharaf. Atas dasar itulah bisa dikatakan, Alfiyah Ibn Malik menjadi lebih populer karena ulama-ulama lain menulis syarah dan hasyiyah terhadap syarah itu.
Dalam kitab Kasyf azh-Zhunun, di­sebutkan bahwa para ulama penulis syarah Alfiyah berjumlah lebih dari 40 orang. Mereka ada yang menulis dengan panjang lebar, ada yang menulis dengan singkat (mukhtashar), dan ada pula ulama yang tulisannya belum selesai. Di sela-sela itu muncullah beberapa kreasi baru dari beberapa ulama yang mem­beri­kan catatan pinggir (hasyiyah) ter­hadap kitab-kitab syarah.
Syarah Alfiyyah Ibnu Aqil
Syarah Alfiyah yang pertama adalah buah pena putra Ibnu Malik sendiri, Badruddin Muhammad (w. 686 H/1287 M). Syarah ini banyak mengkritik pemikir­an nahwiyah yang diuraikan sang ayah, seperti kritik tentang uraian maf’ul mut­laq, tanazu’, dan shifat mutasyabihat. Menurutnya, tulisan ayahnya perlu ditata ulang. Atas dasar itu, Badruddin meng­arang bait Alfiyah “tandingan” dan meng­ambil syahid dari ayat Al-Qur’an. Tetapi hampir semua ilmuwan tahu bahwa tidak semua teks Al-Qur’an bisa disesuaikan dengan teori-teori nahwiyah yang sudah dianggap baku oleh ulama.
Kritikus yang pada masa mudanya bertempat di Ba’labek ini sangat rasional dan cukup beralasan, hanya saja ia ba­nyak mendukung teori-teori nahwiyah yang syadz(ganjil). Karena itu, penulis-penulis syarah Alfiyah yang muncul beri­kutnya, seperti Al-Muradi, Ibn Hisyam, Bahauddin Abdullah Ibn Aqil, dan Al-Asymuni, banyak meralat alur pemikiran putra Ibnu Malik tersebut.
Meskipun begitu, Syarah Badrudin ini cukup menarik, sehingga banyak juga ulama besar yang menulis hasyiyah un­tuknya, seperti karya Ibnu Jama’ah, Al-‘Ainy, Zakariyya Al-Anshari, As-Suyuthi, Ibn Qasim Al-Abbadi, dan Al-Qadhi Taqiyuddin bin Abdul Qadir At-Tamimi.
Di antara penulis-penulis syarah Alfiyah lainnya yang bisa ditampilkan dalam tulisan ini adalah Ibnu Hisyam, Ibnu Aqil, dan Al-Asymuni.
Al-Muradi (w. 749 H/1348 M) menulis dua kitab syarah untuk kitab Tashil al-Fawaid dan Nazham Alfiyyah, keduanya karya Ibn Malik. Meskipun syarah ini tidak populer di Indonesia,  pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama lain, antara lain Ad-Damamini (w. 827 H/1424 M), seorang sastrawan besar. Ketika menulis syarahTashil al-Fawaid, ia menjadikan karya Al-Muradi itu se­bagai kitab rujukan. Begitu pula Al-Asymuni, ketika menyusun Syarah Alfiy­yah, dan Ibn Hisyam, ketika menyusun Al-Mughni, mereka banyak mengutip pemikiran Al-Muradi.
Ibnu Hisyam (w.761 H/1360 M) adalah ahli nahwu yang karya-karyanya juga banyak dikagumi ulama berikutnya. Di antara karya syarah Alfiyyah-nya ada­lah yang berjudul Audhah al-Masalik. Da­lam kitab ini ia banyak menyempurna­kan definisi istilah yang konsepnya telah disusun oleh Ibni Malik, seperti definisi tentang tamyiz. Ia juga banyak mener­tib­kan kaidah-kaidah yang satu sama lain saling bertemu, seperti kaidah-kaidah dalam bab Tashrif. Ia tidak hanya terpaku pada Madzhab Andalusia, tetapi juga mengutip Mazhab Kufah, Bashrah, dan lain-lain.
Kitab ini cukup menarik, sehingga ba­nyak ulama besar yang menulis hasyi­yahnya. Antara lain Hasyiyah As-Suyu­thi, Hasyiyah Ibn Jama’ah, Hasyiyah Al-Ainiy, Hasyiyah Al-Karkhi, Hasyiyah As-Sa’di al-Maliki al-Makki. Dan yang menarik lagi adalah catatan kaki (ta’liq) bagi kitab At-Taudhih, yang disusun oleh Khalid ibn Abdullah Al-Azhari (w. 905 H/1500 M).
Ibnu Aqil (w. 769 H/1368 M), ulama kelahiran Aleppo dan pernah menjabat hakim agung di Mesir, karyanya banyak, tetapi yang terkenal adalah syarah Alfiy­yah-nya. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang pe­mula yang ingin mempelajari Alfiyyah Ibn Malik.
Ia mampu menguraikan bait-bait Alfiyyah secara metodologis, sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan Ibnu Malik pada umumnya.
Kitab syarah Alfiyyah ini adalah yang paling banyak beredar di pondok-pondok pesantren, dan banyak dibaca oleh kaum santri di Indonesia.
Terhadap syarah ini, ulama berikut­nya tampil untuk menulis hasyiyahnya, antara lain Hasyiyah Ibn al-Mayyit, Hasyiyah Athiyah al-Ajhuri, Hasyiyah asy-Syuja’i, dan Hasyiyah Al-Khudlari.
Manhaj as-Salik
Syarah Alfiyah yang lain adalah Manhaj as-Salik, karya Al-Asymuni (w. 929 H/1523 M). Syarah ini, yang sangat kaya akan informasi dan sumber kutip­an­nya sangat bervariasi, dapat dinilai sebagai kitab nahwu yang paling sem­purna, karena memasukkan berbagai pen­dapat madzhab nahwu dengan argu­mentasinya masing-masing.
Dalam syarah ini, pendapat para pe­nulis syarah Alfiyah sebelumnya banyak dikutip dan dianalisis. Antara lain mengu­las pendapat Badruddin Muhammad (putra Ibnu Malik), Al-Muradi, Ibnu Aqil, As-Suyuthi, dan Ibnu Hisyam. Bahkan mengutip pula komentar Ibnu Malik sen­diri yang dituangkan dalam Syarah Al-Kafiyah tetapi tidak dicantumkan dalam Alfiyah-nya.
Semua kutipan itu diletakkan pada posisi yang tepat dan disajikan secara sistematis, sehingga para pembaca mu­dah menelusuri suatu pendapat dari sum­ber aslinya. Kitab ini memiliki banyak hasyiyah juga, antara lain Hasyiyah Hasan bin Ali al-Mudabbighi, Hasyiyah Ahmad bin Umar al-Asqathi, Hasyiyah Al-Hifni, Hasyiyah ash-Shabban.
Imam para Ahli Bahasa
Ibnu Malik adalah seorang yang ter­bilang sangat produktif menulis. Kar­ya-karya besarnya di bidang bahasa telah mentahbiskannya sebagai ulama de­ngan spesialisisasi ilmu bahasa. Karya­nya mencapai 50 buah lebih. Di samping karya-karya di atas, masih banyak karya lainnya. Antara lain, Tashil al-Fawa-id wa Takmil al-Maqashid, Ijaz at-Ta’rif fi ‘Ilm at-Tashrif, Tuhfah al-Mawdud fi al-Maqshur wa al-Mamdud, Al-I’tidhadh fi azh-Zha` wa adh-Dhadh, Lamiyyat al-Af’al, Fatawa fi al-‘Arabiyyah, An-Nazhm Al-Awjaz fima Yuhmaz wama la Yuh­maz, Al-Muashshal fi Nazh al-Mufash­shal, Sabk al-Manzhum, ‘Umdah al-Hafizh, Ikmal al-‘Umdah, Al-Muqaddi­mah Al-Asadiyyah, Syarh Al-Jazuliyyah, Al-Malikiyyah fi al-Qira`at.
Syaikh An-Nahwiyy Ibnu Malik wafat di Damskus pada 1274 M/672 H.
Demikianlah guru besar nahwu-sha­raf dan imam para ahli bahasa, Syaikh Ibnu Malik. Dengan banyaknya mem­baca dan menelaah, mengajar, mengkri­tisi, serta mendalami apa yang sepenuh­nya menjadi perhatian dan kegemar­an­nya, ia telah berhasil menuangkan karya yang banyak. Jasanya sangat yang be­sar bagi perkembangan gramatika ba­hasa Arab, dan karya-karyanya hingga hari ini masih terus dikaji kaum santri dan pelajar.


Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Hubbun Nabi SAW - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger